Ricuh Saat Pleno Rekap Suara, Saksi Polisikan Caleg

  • Whatsapp
banner 468x60

NAMROLE,MG.com – Pemilihan Umum telah usai, masih saja ada permasalahan yang ditinggalkan, terutama di Bursel.
Setelah sekian puluh PTTdirumahkan di Bursel sebagai dampak dari Pemilu, kini dilanjutkan dengan saling lapor antara saksi partai dengan caleg.

Kali ini Hesky Lesnussa saksi Partai Demokrat jadi korban penganiayaan dari caleg Partai Hanura, Metusala Liligoly yang berujung pada proses hukum.

Hesky Lesnussa menjelaskan, peristiwa penganiayan itu terjadi pada tanggal 23 April 2019, sekitar pukul 20:00 Wit saat pleno rekapitulasi perhitungan suara tingkat kecamatan pada Kecamatan Fena Fafan Kabupaten Buru Selatan.

“Pleno bertempat di Balai Desa atau di Kantor Desa Waekatin, yang dipakai saat itu oleh PPK sebagai tempat rekap,” jelas saksi Partai Demokrat Hesky Lesnussa selaku korban penganiyaan itu kepada wartawan di Namrole, Sabtu (3/5/2019).

Menurut Hesky, dirinya mendapat mandat dari Partai Demokrat untuk menjadi saksi partainya. Ketika pada malam itu sekitar pukul 20:00 Wit malam itu ada terjadi pertengkaran.Surat mandat Hesky Lesnussa dari Partai Demokrat.

“Karena orang-orang yang tidak berkapasitas hadir disana, sebagian besar itu masuk. Ada PPL, Caleg, ada juga Kaur Desa dan PPS yang semestinya mereka menunggu giliran, tapi mereka masuk dan berbaur dengan saksi yang bermandat, sehingga ruangan menjadi sesak dan tidak tertib, lantaran ikut interupsi padahal tidak berkapasitas untuk itu,” jelas Lesnussa.

Melihat kondisi seperti itu kata Lesnussa dirinya sebagai saksi dari Partai Demokrat melakukan interupsi agar mensterilkan ruangan saat itu agar tertib.
“Panwas maupun PPK tidak ada ketegasan, makanya saya jadi emosi dan kesal, lalu menumpahkan kekesalan itu lewat menendang kotak suara dari TPS 3 Desa Mngeswaen yang mau diplenokan,” jelas Lesnussa.

Pada saat itu penyusup langsung menyerangnya. Ditengah-tengah situasi itu, Metusala Liligoly melayangkan pukulan ke wajahnya, tepatnya pada dahi sebelah kiri.
“Kemudian, selain itu ada satu orang lagi petugas PPL Kecamatan Fena Fafan yang namanya Setriks Hukunala/Seleky Petugas Pengawas Lapangan (PPL) ikut melayangkan pukulan di bagian belakang kepala saya sebelah kanan,” tuturnya.

Akibat peristiwa itu, keesokan harinya, Lesnyssa langsung lakukan visum di Puskesmas Fena Fafan. surat keterangan dari Puskesmas Fena Fafan

Setelah menyelesaikan tanggungjawabnya sebagai saksi, dirinya melaporkan kasus pemukulan itu ke Polsek Leksula.

“Saya membuat laporan polisi (LP) dan sudah diterima. Lewat proses ini, Partai Demokrat berharap ada upaya penegakan hukum,” harap Lesnussa.

Sebagai warga negara Indonesia yang sadar hukum, Lesnussa mempercayai pihak kepolisian tidak melakukan tebang pilih dalam kasus ini.
“Saya mengalami penganiyayaan ini dalam kapasitas saya sebagai saksi Partai Demokrat. Artinya saya sementara menjalankan tugas-tugas kepartaian,” tandasnya.

Kader Partai Demokrat ini menegaskan, dengan kapasitasnya tersebut, dirinya telah melapor peristiwa tersebut ke pimpinan DPD Partai Demokrat Provinsi Maluku, Roy Pattiasina dan Ketua DPC Partai Demokrat Kabupaten Buru Selatan, Gerson Selsily.
“Partai Demokrat saat ini sedang mengadvokasi masalah penganiayaan ini,” ujar Lesnussa.

Terhadap kelalaian petugas Panwaslu Kecamatan Fena Fafan, Lesnussa mengaku belum melaporkan ke Panwas Kabupaten Bursel.
“Tetapi dalam form keberatan, kejadian luar biasa didalam proses rekapitulasi sudah terterah dan tembusannya akan sampai ke Bawaslu,” tuturnya. (Nar)

banner 300x250

Pos terkait

banner 468x60