PIRU, MG.com – Diduga selewengkan ADD/DD penjabat sementara (Pjs) Kepala Desa Sohuwe Kecamatan Taniwel Seram Bagian Barat (SBB), Arnol Gerson Marayate didemo masyarakat desa tersebut, Senin (28/09/2020).
Demo tersebut digelar di depan Kantor Bupati SBB yang terletak Desa Morekau dan dilanjutakan di depan Kantor DPRD SBB, di Jln Trans Seram Desa Piru Kecamatan Seram Barat, SBB.
Dalam aksinya pendemo membacakan pernyataan sikap atau tuntutan yang disampaikan antara lain, Bupati SBB, Drs. M Yasin Payapo, mengeluarkan SK pergantian Penjabat Desa Sohuwe.
Agar Bupati SBB didesak segera menggantikan Kadis Pemerintahan Desa Setda SBB, Moksen Pellu Karan dinilai membiarkan Penjabat Desa Sohuwe lakukan pelanggaran.
Sayangnya, aksi masyarakat Desa Sohuwe tidak ditanggapi pemerinta daerah SBB lantaran bertepatan dengan agenda bupati beserta seluruh OPD Pemda SBB hadiri sidang paripuran di Kantor DPRD SBB.
Lantaran tidak ditanggapi, pengunjuk rasa melakukan konvoi menuju Kantor DPRD SBB untuk menyampaikan tuntutan kepada Bupati.
Akhirnya, perwakilan pendemo lakukan audens dengan Perwakilan Pemda SBB di ruang rapat DPRD SBB.
Salah satu pendemo, Sekertaris BPD Desa Sohuwe, Mateis Rumasol, meminta agar penjabat Desa Sohuwe diganti dengan penjabat yang netral atau yang tidak berpihak pada salah kelompok masyarakat.
Menyikapi hal tersebut Asisten I Setda SBB, S. Selanno menjelaskan, pemeriksaan terhadap penjabat Desa Sohuwe tetap dilakukan Inspektorat SBB. “Jika terbukti bersalah maka tetap diproses hukum,” tegasnya.
Selanno berjanji akan menggantikan penjabat Desa Sohuwe dengan penjabat yang netral dan dalam melaksanakan tugasnya selalu transparan kepada masyarakat.
Sementara itu Kepala Dinas Pemerintahan Desa menyampaikan jika pihaknya tidak akan melindungi Penjabat yang bermasalah.
“Petunjuk Bupati SBB Minggu depan bulan Oktober 2020 Penjabat Desa Sohuwe akan di gantikan dengan penjabat yang netral tujauannya menjaga stabilitas keamanan di Desa Sohuwe,” jelasnya.
Setelah mendengar penjelasan dari Asisten I mauoun Kadis Pemdes, pendemo tetap bertahan dan tidak mau membubarkan diri.
Mereka bersikeras bertemu Bupati SBB lantaran sudah tiga kali masyarakat mengajukan keinginan bertemu bupati namun tudak pernah direspon.
Hingga akhirnya Bupati SBB, Yasin Payapo bersedia menemui pendemo dan menjelaskan mekanisme pemerintahan yang berlaku. (Kos)









