Polda Maluku Gelar Diskusi Millenial di Unpatti

AMBON, MG.com – Menyambut Millenial Road Safety Festival (MRSF) di Kota Ambon Dirlantas Polda Maluk melakukan diskusi Millennial di kampus Universitas Pattimura Ambon, Rabu (27/2/2019).

Sekitar 600 mahasiswa berbagai fakultas di Unpatti menghadiri acara tersebut. Tema yang diusung dalam diskusi tersebut, “Mewujudkan Millennial Cinta Lalu Lintas Menuju Indonesia Gemilang”.

Tiga tiga narasumber yang dihadirkan diskusi millennial yakni Ditlantas Polda Maluku, Kombes Pol. Heru Trisasono, Pakar Transportasi, Marcus Tukan dan Pakar pisikologi, Theophany P Theresia Ramoisel.

Ditlantas Polda Maluku, Kompol Heru Trisanono dalam paparannya di depan ratusan mahasiwa Unpatti mengungkapkan masyarakat Kota Ambon sebagai pelopor keselamatan berlalu lintas.

“Dalam catatan World Health Organization (WHO) di Indonesia angka kecelakaan merupakan nomor lima pnyebab kematian. Hal ini disebabkan karena faktor minimnya disiplin berlalu lintas,” kata Heru.

Meski demikian, lanjut Heru, Polda Maluku berupaya untuk terus melakukan sosialisasi keselamatan berkendara hingga ke sekolah-sekolah.

Selain pengetahuan tentang keselamatan berlalu lintas, mahasiswa diberi pemahaman pentingnya kelengkapan surat berkendara.
Tingkat kedisiplinan pengendara juga harus dibangun melalui gerakan sosialisasi masif di tengah masyarakat.

“Disiplin berkendara tidak bisa tumbuh sendiri tanpa sosialisasi, gerakan nyata ditambah sedikit unsur paksaan. Saya apresiasi dengan adanya milenial safety road festival, semoga bisa ditindak lanjuti dan upaya menekan angka laka lantas yang berkesinambungan di Kota Ambon,” katanya.

Sementara itu, Pakar transportasi Universitas Pattimura, Marcus Tukan mengatakan Indonesia bisa menjadi pelopor penekan angka kecelakaan lalulintas di Kota Ambon. Sebab, angka kecelakaan di Indonesia dinilai cukup masif.

“Saya kira, di Indonesia sudah sangat mendesak ada suatu hari yang meyadarkan masyarakat Indonesia bahwa korban meninggal dunia yang terbesar kaum millennial,” ujarnya.

Untuk mengurangi korban laka lantas, sebenarnya ada catanya yaitu asal bisa tertib berlalunlintas, mengikuti norma, rambu dan marka yang ada dan kesadaran berlalin di usia dini.

“Saya kira Indonesia (angka kecelakaan lalu lintas) bisa turunkan,” yakinnya.

Tukan menambahkan, dibutuhkan kepekaan lebih dari masyarakat Indonesia tentang keselamatan berkendara.
Indonesia, kata Tukan, bisa menjadi negara Asia pertama jika bisa menekan angka kecelakaan sekecil mungkin.

“Saya kira Indonesia harus mampu sebagai negara asia pertama, jika bisa mengendalikan angka kecelakaan dan itu bisa membuat kawasan Asia lebih baik.
Saat ini kondisi diperparah karena belum adanya kepekaan dan kesadaran masyarakat padahal ini hal penting. Sekali lagi saya kira ini pendidikan dari tingkat yang paling dini,” ucapnya.

Sementara itu menurut pakar psikologi Universitas Pattimura Theophany P Thresia Ramoisela mengupas tentang bagaimana cara berpikir kaum milenial dengan menyikapi beberapa peraturan bagaimana cara berlalu-lintas yang baik dan benar.

“Taat berlalu-lintas harus taat hukum berlalulintas di jalan raya dimana naik motor harus pakai helm agar tidak terjadi kecelakaan,” ungkapya.

Pelanggaran berlalulintas terus meningkat bagi kaum millennial, ini artinya kecelakaan yang lebih sadis, dimana mengendarai kendaraan tidak berdasar pada akal sehat.

Ditambahkan, ada beberapa faktor pemicu kecelakaan lalu lintas yakni miras, ugal-ugalan, serta kurangnya kesadaran dalam berkendaraan.

“Kaum millennial, untuk mahasiswa dalam kematangan berpikir belum sempurna dimana saat berkendaraan tidak memikirkan kecepatan motor, bertindak bak pembalap internasional,” ujarnya. (MG)

Tinggalkan Balasan