2017 Inflasi Kota Tual Capai 9,41 persen

AMBON, MenaraGlobal.com-Pada tahun 2017, inflasi Kota Tual mencapai 9,41 persen (yoy) sementara Inflasi Nasional 3,61 persen (yoy), Maluku 0,78 persen (yoy), Kota Ambon 0,05 persen (yoy).

Demikian dikemukakan Kepala Perwakilan Bank Indonesia (KPw BI) Provinsi Maluku, Bambang Pramasudi pada kegiatan diskusi publik dengan tema, Diseminasi Kajian Ekonomi dan Keuangan Regional Triwulan I tahun 2018 di The Natsepa Hotel-Ambon, belum lama ini.

Sementara pada tahun 2016,  inflasi Nasional berada pada 3,2 persen (yoy), Maluku 3,26 persen (yoy) dimana Kota Tual 2,9 persen (yoy) dan Kota Ambon 3,28 persen (yoy).

Tahun 2015, Inflasi Maluku 6,15 (yoy), untuk Kota Ambon 5,92 (yoy), Kota Tual 8,58 persen (yoy). Sedangkan tingkat inflasi Nasional 3,35  persen (yoy).

Dalam pemaparannya, Bambang menjelaskan tentang tracking perkembangan inflasi Maluku 2018.

Menurutnya, seluruh provinsi wilayah KTI mencatatkan inflasi tahunan (yoy) didalam atau dibawa rentang sasaran inflasi nasional 2018 yakni sebesar 3,5 persen.

Dijelaskan pula bahwa, inflasi KTI bulan Mei 2018 tercatat 3,17 persen (yoy) lebih rendah dibanding inflasi nasional bulan Mei 2018 sebesar 3,23 persen (yoy).

“Tekanan inflasi Provinsi Maluku pada bulan Mei 2018 tercatat 1,86 persen (yoy) meningkat dari bulan Mei 2017 sebesar 0,88 persen (yoy),” jelas Pramasudi lagi.

Peningkatan tekanan inflasi, menurutnya didorong komponen volatile food (VF) terutama pada kelompok bahan makanan.

Selain itu tambahnya, peningkatan tekanan inflasi juga terjadi pada komponen inti, terutama pada sub kelompok ikan yang diawetkan, sandang wanita dan rekreasi.

Sementara untuk komponen administered prices (AP) masih mengalami deflasi, namun peningkatan tekanan mulai terjadi pada sub kelompok angkutan udara.

Andil Komponen Inflasi Maluku Hingga Mei 2018, jika dibandingkan dengan bulan sebelumnya maka peningkatan tekanan inflasi pada Mei 2018 disebabkan peningkatan tekanan pada komponen volatile food yang didominasi tingginya inflasi komoditas ikan yang diawetkan, sandang dan rekreasi.

“Namun komponen administered prices masih mengalami deflasi yang cukup besar,” kata Pramasudi.

Hal ini disebabkan rendahnya harga tiket angkutan udara bila dibandingkan dengan bulan Mei 2017. (on).

Tinggalkan Balasan