AMBON — Perkembangan teknologi digital turut mendorong peningkatan akses masyarakat terhadap pasar modal. Transaksi saham yang kini dapat dilakukan secara daring membuat masyarakat, khususnya generasi muda, semakin mudah untuk mulai berinvestasi.
Kepala Kantor Perwakilan Bursa Efek Indonesia (BEI) Maluku dan Maluku Utara, Rahma Artika Salampessy, mengatakan selain melalui perusahaan sekuritas, perkembangan aplikasi digital juga membuka peluang masyarakat untuk mengakses berbagai produk investasi pasar modal secara lebih mudah.
Dalam upaya meningkatkan literasi dan inklusi pasar modal, BEI juga terus memperluas kerja sama dengan perguruan tinggi dan sekolah di Maluku dan Maluku Utara.
Saat ini terdapat 13 Galeri Investasi perguruan tinggi yang telah bekerja sama di wilayah Maluku dan Maluku Utara. Sebarannya meliputi tujuh galeri di Kota Ambon, satu di Kabupaten Buru, satu di Maluku Tengah, satu di Kepulauan Tanimbar, serta tiga galeri di Ternate.
“Jadi dalam rangka kita meningkatkan literasi dan juga inklusi pasar modal, salah satu channel yang kita lakukan adalah dengan melakukan kerja sama dengan perguruan tinggi, sehingga informasi yang nanti disampaikan ini bisa jauh lebih masif,” jelas Rahma.
Selain perguruan tinggi, BEI juga membuka peluang kerja sama dengan sekolah. Hingga saat ini tercatat sekitar 19 Galeri Investasi sekolah, terdiri dari 11 di Ambon, lima di Maluku, dan tiga di Maluku Tengah.
Menurut Rahma, keterbukaan informasi melalui media sosial dan perkembangan teknologi menjadi salah satu faktor yang membuat generasi Z semakin mengenal investasi pasar modal.
“Anak-anak muda sekarang, Gen Z, ternyata punya pemahaman tentang pasar modal. Mungkin dengan keberadaan media sosial dan teknologi, informasi menjadi sangat terbuka,” ujarnya.
Jumlah Investor Terus Meningkat
Data tahun 2025 menunjukkan jumlah investor pasar modal di Maluku mencapai 67.962 investor, tumbuh sekitar 22 persen secara year on year. Sementara jumlah investor saham mencapai 19.271 investor atau tumbuh sekitar 24 persen.
Pertumbuhan tersebut menunjukkan peningkatan yang signifikan dibandingkan kondisi beberapa tahun sebelumnya. Pada 2016, jumlah investor saham di Maluku masih berada di kisaran 400 investor.
Sementara itu, di Maluku Utara jumlah investor pasar modal mencapai 73.788 investor, tumbuh sekitar 47 persen secara year on year. Adapun jumlah investor saham mencapai 15.611 investor dengan pertumbuhan sekitar 70 persen.
“Kalau kita melihat, Maluku Utara ini peningkatannya cukup signifikan, baik dari sisi jumlah investor pasar modal maupun investasi sahamnya,” kata Rahma.
Hingga Juni 2026, pertumbuhan investor pasar modal di Maluku kembali menunjukkan perkembangan positif. Jumlah investor pasar modal meningkat sekitar 43 persen sejak awal Januari hingga Juni 2026, sedangkan investor saham tumbuh sekitar 18 persen.
Pertumbuhan investor pasar modal tersebut turut didorong oleh meningkatnya minat masyarakat terhadap Surat Berharga Negara (SBN). Selain saham, masyarakat kini mulai memilih obligasi negara sebagai salah satu instrumen investasi.
“Investor pasar modal ini juga salah satunya didukung oleh SBN. Selain saham, sekarang masyarakat banyak yang mulai beralih untuk membeli obligasi negara. Obligasi negara ini adalah produk pasar modal, sehingga termasuk dalam investasi pasar modal,” jelas Rahma.
Di Maluku Utara, hingga Juni 2026 tercatat sebanyak 73.961 investor pasar modal dan 19.598 investor saham.
Karyawan Swasta dan Pelajar Mendominasi
Dari sisi profesi, investor saham di Maluku dan Maluku Utara didominasi oleh karyawan swasta dengan komposisi sekitar 31 persen. Kelompok terbesar berikutnya adalah pelajar dan mahasiswa dengan komposisi sekitar 20 persen.
Meningkatnya jumlah pelajar dan mahasiswa sebagai investor saham tidak terlepas dari kemudahan transaksi yang kini dapat dilakukan secara digital.
“Transaksi di pasar modal itu sekarang sudah full online. Anak-anak sekarang, mahasiswa atau pelajar yang sudah punya KTP, banyak yang masuk karena kalau mau membeli saham tidak manual lagi. Punya HP, bisa langsung belajar dan berinvestasi,” kata Rahma.
Kemudahan pembukaan rekening saham juga menjadi salah satu faktor pendorong. Pembukaan rekening dapat dilakukan secara digital tanpa memerlukan setoran awal yang besar.
“Kalau buka rekening saham sekarang nol rupiah. Tidak ada setoran. Makanya posisi pelajar ini meningkat signifikan. Buka rekeningnya gratis, kemudian bisa membeli saham,” tambahnya.
Selain karyawan swasta dan pelajar, investor saham juga berasal dari kalangan pengusaha, ASN, guru, serta kelompok profesi lainnya.
Investor Didominasi Generasi Muda
Berdasarkan kelompok usia, investor saham di Maluku dan Maluku Utara didominasi masyarakat berusia muda. Kelompok usia 18–25 tahun memiliki porsi terbesar, yakni sekitar 38 persen.
Kemudian kelompok usia 26–30 tahun mencapai sekitar 21 persen, usia 31–40 tahun sekitar 24 persen, sedangkan investor berusia di atas 40 tahun sekitar 12 persen.
“Memang kita melihat ini sebagai satu tren yang positif. Artinya, literasi kita semakin berkembang. Ternyata banyak anak-anak muda yang mulai terinformasi, terliterasi, dan juga menjadi bagian dari inklusi investasi pasar modal,” ujar Rahma.
Investor Masih Terpusat di Ambon
Dari sisi persebaran wilayah, jumlah investor saham di Maluku masih terkonsentrasi di Kota Ambon. Tercatat sekitar 11.671 investor saham berada di Ambon atau sekitar 51 persen dari total investor saham di Maluku.
Kabupaten Maluku Tengah berada di posisi berikutnya dengan sekitar 3.253 investor, disusul Kabupaten Buru sebanyak 1.376 investor dan Kabupaten Seram Bagian Barat sekitar 1.268 investor.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa persebaran investor pasar modal di Maluku masih belum merata. Karena itu, BEI bersama pemangku kepentingan lainnya terus mendorong peningkatan literasi dan inklusi keuangan hingga ke kabupaten dan kota di luar Ambon.
“Kami juga dengan stakeholder yang lain, dengan OJK dan pemerintah, melalui salah satunya tim pasar keuangan, mendorong supaya kabupaten-kabupaten yang lain juga bisa berkembang. Sehingga literasi dan inklusi ini bisa lebih merata, tidak hanya di Ambon saja,” pungkas Rahma Artika Salampessy.
Literasi Pasar Modal di Maluku Terus Tumbuh, Anak Muda Mulai Dominasi Investor Saham











