Tenun Ikat Mawar Tembus Pasar Belanda, Pertahankan Pewarnaan Alam

banner 468x60

AMBON — Tenun Ikat Mawar terus mengembangkan produk kain tenun khas Maluku dengan mempertahankan penggunaan pewarna alam. Produk kerajinan tersebut bahkan telah menembus pasar luar negeri, salah satunya Belanda.
Pemilik Tenun Ikat Mawar, Lucy, mengatakan, kain tenun yang diproduksi memiliki harga mulai dari Rp1 juta hingga Rp3,5 juta, tergantung ukuran dan proses pembuatannya.
“Harga kain tenun kami mulai dari Rp1 juta sampai Rp3,5 juta. Untuk ukuran paling besar dengan harga Rp3,5 juta, ukurannya dua kali satu meter,” kata Lucy.
Menurut Lucy, proses pembuatan kain tenun dengan pewarnaan alam membutuhkan waktu cukup lama. Untuk menghasilkan satu lembar kain, prosesnya dapat memakan waktu sekitar dua hingga tiga minggu.
“Untuk kain tenun dengan pewarnaan alam ini, kami membutuhkan waktu sekitar dua sampai tiga minggu untuk satu lembar kain, karena proses pewarnaannya memang lama,” ujarnya.
Dalam satu bulan, Tenun Ikat Mawar mampu memproduksi sekitar 20 hingga 30 lembar kain. Sementara itu, pesanan dari Belanda datang secara berkala, biasanya dalam rentang empat hingga lima bulan sekali, tergantung permintaan.
“Kalau pesanan dari Belanda itu tergantung. Biasanya mereka memesan beberapa bulan sekali, bisa empat bulan sekali atau lima bulan sekali,” jelasnya.
Lucy menyebutkan, bahan tenun diperoleh dari Ambon dan proses produksinya juga dilakukan di Ambon. Pihaknya juga mulai membudidayakan sejumlah tanaman yang dapat dimanfaatkan sebagai bahan pewarna alam, salah satunya indigo atau nila.
“Tenunnya kami beli di Ambon dan produksinya juga kami lakukan di Ambon. Kami juga sudah membudidayakan beberapa pohon untuk pewarna alam, salah satunya indigo nila,” ungkapnya.
Ia menjelaskan, penggunaan pewarna alam memang membutuhkan biaya lebih tinggi dibandingkan pewarna sintetis. Namun, pihaknya tetap berupaya mempertahankan pewarnaan alam sebagai bagian dari nilai dan keunikan produk tenun.
“Untuk pewarnaan alam memang biayanya lumayan tinggi dibandingkan dengan yang sintetis. Tetapi kami ingin kembali mengembangkan pewarnaan alam,” katanya.
Selain mengikuti Karya Kreatif Indonesia (KKI), Tenun Ikat Mawar juga telah mengikuti sejumlah pameran yang difasilitasi Bank Indonesia.
Lucy mengapresiasi dukungan Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Maluku yang telah melakukan pembinaan terhadap usahanya selama kurang lebih lima tahun.
“Terima kasih banyak kepada BI Maluku karena sudah membina kami selama kurang lebih lima tahun. Kami diberikan banyak pelajaran, termasuk membantu akses pasar, memberikan informasi, dan juga membantu permodalan,” tutur Lucy.
Ia berharap keberadaan Tenun Ikat Mawar dapat semakin memperkenalkan warisan budaya Maluku kepada masyarakat luas, termasuk hingga ke pasar internasional.
“Untuk masyarakat Maluku, mari kita bersama-sama mengenalkan warisan budaya ini. Karena kalau bukan orang Maluku yang mengenalkan, siapa lagi?” pungkasnya.

banner 300x250

Pos terkait

banner 468x60