Ekspor Perdana Yellowfin Tuna dari Ambon

  • Whatsapp
banner 468x60

Kadis Indag Tegaskan Kerugian Maluku Akibat Regulasi

AMBON, MG.com – Regulasi yang ditetapkan Pemerintah Pusat terkadang merugikan pemerintah dan masyarakat daerah penghasil.
Sebut saja Maluku dari sektor eksport hasil perikanan maupun sektor lainnya.
Kekecewaan atas ketidakadilan ini disampaikan dengan tegas dan gamblang Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Maluku, Elvis Pattiselano kepada Ketua Tim Komisi IV DPR RI, Michael Wattimena saat kunjungan kerja di Kota Ambon bertepatan dengan eksport perdana 25 ton Tuna Yellowfin oleh CV. Sumber Harta Laut Emas, dari kawasan Pelabuhan Peti Kemas Yos Sudarso Ambon, Selasa (30/07/2019).

Menurut Pattiselano, Pemda Maluku mendorong eksport dari Maluku khususnya Kota Ambon dan Tual dan Maluku hanya peroleh Devisa Eksport.
“Kita hanya peroleh Devisa Ekspor lantaran tercatat sebagai devisa ekspor dati Maluku sedangkan PAD Maluku, kita tidak dapat sepeserpun, nol. Dulu saat uji mutu di provinsi, Maluku bisa kantongi Rp 11 miliar satu tahun,” tegasnya.

Sayang, dengan UU nomor 23, kebijakan tersebut ditarik ke pusat dan pengujian dilaksanakan di Badan Karantina Ikan dan Pengendalian Mutu dan Keamanan Hasil Perikanan, Maluku sebagai daerah penghasil tidak menerima manfaat untuk PAD.

Pattiselano berharap, persoalan ini dibicarakan Komisi IV dengan Kementerian Kelautan dan Perikanan agar diperhatikan. “Regulasi ini sangat merugikan daerah penghasil,” tandasnya.

Sementara itu, di lokasi yang sama, dilakukan ekspor perdana hasil laut berupa Yellowfin Tuna (Tuna sirip kuning) oleh CV. Sumber Harta Lautan Emas sebesar 25 ton dengan negara tujuan Thailand.

Asisten III Sekertaris Daerah Provinsi Maluku, Kasrul Selang mengatakan Pemerintah Daerah (Pemda) Maluku membuka peluang bagi perusahaan ekspor atau importir.

Dikatakan, Pemda Maluku menggelar “karpet merah” kepada perusahaan eksportir dan importir yang ingin mengimpor hasil Maluku ke luar negeri.

“Kami berharap, ini tidak hanya menjadi ekspor pertama atau terkahir, namun harus ada lagi kegiatan ekspor lainnya, baik dari CV. Sumber Harta Lautan Emas, atau pun perusahaan lain di daerah ini,” pungkasnya.

Sementara itu, Kepala Kantor Wilayah Bea Cukai Maluku, Finari Manan menjelaskan, pihaknya berharap tidak hanya mengekspor dari sektor perikanan tetapi juga dari sektor-sektor lainnya.
“Kita ingin tidak hanya mengekspor dari sektor perikanan saja, karena sudah ada prospek dari hasil pertanian dan juga kehutanan,” katanya.
Untuk tahun 2019 tambahnya, telah ada dua eksportir baru yaitu Putri Desy untuk kepiting bakau dan CV. Sumber Harta Lautan Emas untuk Yellowfin Tuna.Menurutnya, nilai devisa ekspor perdana mencapai $55.000 USD.
“Kegiatan hari ini adalah ekspor baru, alasan mereka baru pertama kali mengekspor. Devisa sebesar USD 55.000 setara dengan Rp.771.210.000, dan ini memberikan momen bagus untuk ekportir,” kata Finari Manan. (on)

banner 300x250

Pos terkait

banner 468x60