dr.Johanis Rahakbauw Figur Muda Yang Peduli

AMBON, MG.com – Kondisi geografi Maluku yang kepulauan membuat daerah ini tertinggal dibandingkan dengan daerah lainnya di Indonesia.
Bahkan, Maluku dalam sensus BPJS, merupakan daerah termiskin nomor empat di Indonesia.
Namun kondisi daerah ini tidak lantas membuat nyali dr. Johanis Edward Rahakbauw kendor. Bahkan dengan mengusung konsep Berbagi Kasih di Bidang Pendidikan dan Kesehatan, pemuda 28 tahun ini mencalonkan diri sebagai calon anggota DPR RI dapil Maluku dari Partai Perindo Nomor Urut 2.

“Keterpanggilan selaku putera Maluku mendorong saya untuk maju di Pileg 2019, basic saya sebagai dokter dan sudah terbiasa aktif di bidang sosial,” katanya kepada wartawan di Ambon, Senin (19/03/2019).

Mengutamakan pendidikan dan kesehatan, dr. Jhon sapaan akrabnya berdalih bila seseorang sehat dan punya pendidikan bagus maka pasti orang tersebut akan sejahtera. “Setiap orang ingin sehat, jika ditambah dengan pendidikan yang baik maka secara otomatis dia akan berupaya meningkatkan kesejahteraan diri dan lingkungannya,” kata jebolan Fakultas Kedokteran Universitas Maranatha Bandung ini.

Dalam perjalanannya ke pelosok Maluku, dr. Jhon menemukan banyak persoalan baru yang belum diketahuinya.
Salah satu contoh, sulitnya medan yang ditempuh dan kurangnya alat keselamatan pada moda transportasi laut.
“Wah, perjalanan paling sulit, kalau ombak besar kita hanya duduk sambil berdoa tak tahu mesti berbuat apa,” katanya.

Namun dia mengaku tidak trauma dengan kondisi ini. “Selaku putera Maluku yang lahir dari orang tua asli Maluku, saya akan berjuang agar bisa menyapa masyarakat hingga ke pedalaman, sesulit apapun tantangannya,” katanya.

Sebagai dokter, Jhon memaklumi kurangnya minat tenaga kesehatan bertugas di daerah pelosok di Maluku.
Hal ini lantaran kondisi geografis, juga penghasilan yang diperoleh tidak sebanding pengorbanan mereka.
“Ini realita yang terjadi, akhirnya tenaga medis khususnya dokter bertumpuk di daerah perkotaan, misalnya ibukota provinsi dan kabupaten, demikuan juga tenaga guru,” jelasnya.

Untuk itu tambahnya, dibutuhkan regulasi agar distribusi tenaga guru dan medis bisa merata hingga pelosok.
“Pembangunan infrasttuktur fisik penting namun ketersediaan SDM untuk memenuhi kebutuhan dasar manusia jauh lebih penting,” katanya bijak. (On)

Tinggalkan Balasan