Pencemaran Akibat Tumpahan Avtur Tunggu Hasil Lab

Donny : Penyebab Tunggu Hasil Investigasi Pertamina Pusat

AMBON, MG.com – Tingkat pencemaran akibat tumpahan minyak dari tanki Terminal Pengisian BBM PT Pertamina di kawasan  Waiyame Kecamatan Teluk  Kota Ambon pekan lalu belum bisa diketahui. Sebab, Badan Pengendalian Dampak Lingkungan Provinsi Maluku belum bisa memastikan tingkat pencemaran lingkungan sebelum ada hasil laboratorium. Hasil laboratorium baru akan diketahui 10 hari mendatang terhitung sejak dikirim yakni tanggal 20 Agustus.

“Kita tidak bisa memperkirakan hasilnya sebelum hasil laboratoriumnya. Kalau hasilnya datang baru kita lihat apa saja yang tercemar, ada tidak planton atau biota laut yang mati,”  kata Kepala BPDL Provinsi Maluku, Ir. Vera Tomasoa usai rapat  bersama managemen PT Pertamina Ambon dengan Komisi B DPRD Maluku di ruang Komisi B DPRD Maluku, Kamis (20/8/2018).

Jika tambahnya laut atau lingkungan sekitar tercemar maka ada tindakan yang diambil untuk Pertamina. “Mungkin mengembalikan lagi kondisi seperti semula,” katanya.

Lokasi yang diteliti kata Tomasoa adalah  4 (empat) titik di sungai dan 5 (lima) titik di di laut.

“Itu samplenya sama yaitu air dan sendimennya kita ambil lalu dibagi dua yakni satu untuk Pertamina dan satu untuk kita,” jelasnya lagi.

Sementara itu, Donny Briliyanto Brand Manager Marketing PT Pertamina Maluku menjelaskan penyebab utama merembesnya Avtur dari tanki milik Pertamina belum diketahui penyebab utamanya.

Diduga, katanya terjadi bocoran akibat rembesan dari tangki tujuh ke tangki delapan. Namun penyebab utama bocoran hingga menyebabkan tumpahan minyak masih menunggu hasil ivestigasi Pertamina Pusat.

“Penyebab utamanya kita masih menunggu hasil investigasi, kalau memang akibat kelalaian apakah dari sistem atau dari pekerja yang jelas, hukumannya pasti dijalankan,” terangnya.

Donny mengakui, hampir dua jam baru pihaknya mengetahui adanya kebocoran.

“Kita lagi menunggu hasil investigasi,” ulangnya.

Tumpahan minyak, diperkirakan sekitar 20-25 kilo Liter (KL), yang jika diasumsikan satu KL Rp 10.000  maka total kerugian mencapai  Rp 200 juta.

Walau demikian, Pertamina menjamin ketersediaan avtur hingga kapal pengangkut BBM yiba di Kota Ambon. (on).

Tinggalkan Balasan