Progres Hari Air Sedunia 2017 Tidak Jalan

  • Whatsapp
banner 468x60

Kinerja Kepala BWS Maluku Dievaluasi

AMBON, MG.com – Progres kegiatan Hari Air Sedunia tahun 2017 yang diselenggarakan di Kota Tual dan Maluku Tenggara hingga kini tidak ditindaklanjuti Balai Wilayah Sungai (BWS) Maluku.
Padahal, saat itu ada dua dokumen pengusulan proposal yang diserahkan Pemerintah Kota Tual dan Kabupaten Malra.
Demikian dikemukakan anggota DPRD Maluku, Coatansius Kolatfeka kepada wartawan di Kantor DPRD Maluku, Selasa (05/03/2019).

“Proposal tersebut pastinya berkaitan dengan berbagai persoalan apakah itu pembangunanan sarana dan prasarana air baku di Kota Tual dan Malra. Sayangnya, progres tersebut belum berjalan untuk itu sebagai Ketua Kalesang Lingkungan Maluku waktu itu saya dan teman-teman lakukan evaluasi terhadap seluruh program kerja Kalesang Lingkungan Maluku sejak tahun 2015-2018 dan kami menyoroti kinerja Balai Wilayah Sungai Maluku sebagai mitra kami,” tegasnya.

Kolatfeka menjelaskan, saat ituproposal diserahkan kepada Direktur Sungai Pantai yakni Haryogi yang saat ini menjabat sebagai Direktur Sumber Daya Air, Kementerian PU.

Dia mengakui, beberaoa hari lalu, Lembaga Kelsang Lingkungan Maluku diundang BWS Maluku untuk bertemu Kepala BWS Maluku, Haryono didampingi KepalaTU serta beberapa Satker.
“Kami diundang BWS Maluku yang dipimpin Haryono bersama Kepala Tata Usaha beserta beberapa Satker. Saat pembicaraan tersebut kami membawa salah satu tokoh masyarakat Malra, kami berharap setelah pertemuan tahun 2019 ini ada eksekusi pembangunan karena telah memasuki dua tahun anggaran berjalan,” terangnya.
Oleh sebab itu, lanjutnya, Kepala BWS Maluku saat ini harus memperhatikan dua proposal besar yang didorong Pemkab Malra dan Kota Tual.

Menurut Kolatfeka, dalam pertemuan tersebut pihaknya juga meminta kerangka kegiatan Hari Air Dunia yang dilaksanakan di Pulau Gorom.
“Kenapa diselenggarakan di Pulau Gorom ? karena peran BWS di Maluku selama ini lebih banyak pada wilayah pulau besar, yakni Pulau Wetar, Seram, Yamdena dan Pulau Buru. Dan rata-rata program BWS hanya di empat pulau besar bahkan dialksanakan dengan pendekatan kontinental atau satu daratan padahal sesungguhnya Peovinai Maluku adalah kepulauan,” terangnya.
Mestinya, kebijakan BWS harus berbasis kepulauan, apalagi pulau kecil seperti Gorom, Aru dan Kei adalah pulau yang mesti disentuh pula.

Akibat tidak maksimalnya kinerja BWS Maluku maka LSM dan lainnya layak dan pantas lakukan evaluasi kinerja Kepala BWS Maluku.
“Saya kira sangat layak dievaluasi, apalagi arah kebijakan kontinental atau satu daratan sementara Maluku merupakan wilayah kepulauan. Dan saat pertemuan kemarin, beliau berjanji akan memperhatikan usulan tersebut,” jelas Kolatfeka.

Selain itu, tanggal 27 Maret mendatang, perayaan Hari Air Sedunia akan dilaksanakan di Pulau Gorom yang ditandai dengan pembangunan sarana air baku senilai lebih dari Rp 7 miliar.
“Ini merupakan kepedulian BWS terhadap ketersediaan air baku di pulau kecil terutama di Pulau Gorom. Saya mengapresiasi, namun sesungguhnya hal ini juga untuk melihat peran masyarakat dalam kegiatan pembangunan tersebut,” terangnya.
Keterlibatan masyarakat mengawasi proyek bernilai miliaran rupiah guna menghindari korupsi dan lainnya.
“Kualitas pekerjaab proyek ini harus dijaga,” terangnya. (MG)

banner 300x250

Pos terkait

banner 468x60