Pengganti Seleky Kader GPM

Werinussa : Jangan Pilih Kader GPM Yang Suka Berkelahi

NAMROLE, MG.com – Ketua MPH Sinode GPM, Pdt AJ. Werinussa berharap pengganti Wakil Bupati Buru Selatan adalah kader GPM.

Demikian harapan dari Ketua BPH Sinode GPM AJ. Werinussa dalam sambutannya pada pembukaan MPPD ke XXI AMGPM Buru Selatan yang berlangsung di Desa Kase, Kecamatan Leksula Kabupaten setempat, Minggu (3/3/2019).

“Saya berharap kepada bupati agar dalam memilih wakil bupati (menggantikan almarhum) dari kader GPM. Minimal pengganti wakil bupati ada kesamaan dengan almarhum Ayub Seleky;” ucap Werinussa kepada Bupati Buru Selatan Tagop Sudarsono Soulisa yang hadir saat itu.

Werinussa pada pada kesempatan tersebut mengingatkan agar penentua penggantu almarhum hendaklah dipilih dan ditentukan dengan bijak dan santun.
“Jangan kesempatan ini digunakan untuk saling bertarung dan cakar mencakar,” harspnya.

Menurut Werinussa, semua pihak terkait harus memberikan kesempatan kepada bupati untuk memilih dan menentukan rekan kerjanya yang sejalan sesuai dengan kesepakatan politik dan naluri pemerintahan yang ditekuni sejak lima tahun pertama hingga memasuki 5 tahun kedua.
“Pak bupati, jika ada kader GPM yang berkelahi, saya iklas kalau bapak tidak memilih mereka,” tegas Werinussa.

Werinussa menegaskan, pihaknya tidak mau kader-kader GPM berkelahi merebut jabatan di pemerintahan, maupun jabatan sosial politik.
“Sekali lagi saya ingatkan, jangan mengganggu konsentrasi pak bupati, biarkan beliau memilih dengan nurani beliau. Memilih teman yang dicintai, teman yang bersahabat untuk memimpin sisa pemerintahan beliau,” tegasnya bijak.

Menanggapi harapan dari Ketua BPH Sinode GPM itu, Bupati Bursel, Tagop Soulissa menegaskan pengganti Wakil Bupati almarhum Ayub Seleky haruslah orang yang sama seperti almarhum, minimal kader GPM.
“Minimal kader GPM, saya merespon apa yang disampaikan Ketua Sinode,” tegasnya.

Diakuinya, sulit memilih pengganti Seleky dan di hati yang paling dalam dirinya belum bisa melepas almarhum.
“Saya sendiri dalam mekanisme untuk memilih pengganti pak Ayub Seleky, terus terang saja, sampai hari ini saya punya hati belum bisa melepaskan beliau,” ujarnya lirih.

Dikatakan, terkadang situasi kondisi membuat dirinya tertekan, karena ada hal-hal yang kadang dipolitisir oleh orang tertentu yang tidak diketahuinya.
Hal ini lanjut Tagop, sudah dikatakan termasuk ke beberapa tokoh politik di Maluku.
“Identitas Ayub Seleky tidak bisa hilang dari proses kehidupan saya, karena sudah terlalu mendalam,” kata Tagop penuh rasa haru. (Nar).

Tinggalkan Balasan