Perkembangan Positif KUR di Maluku

AMBON, MG.com – Penyaluran Kredit Usaha Rakyat (KUR) di Provinsi Maluku posisi September 2018 menunjukkan perkembangan positif dibandingkan dengan akhir tahun 2017. Demikian dikemukakan Kepala Kantor Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Provinsi Maluku, Bambang Hermanto pada kegiatan Mefia Gathering OJK di The Natsepa Hotel, Jumat (23/11/2018).
Berdasarkan data yang dihimpun dari bank-bank penyalur KUR kata Hermanto, hingga September 2018 KUR telah tersalurkan kepada 44.786 debitur. “Jumlah ini meningkat 14.348 debitur dibanding posisi akhir tahun 2017,” karanya.
Menurutnya, baki debet sebesar Rp 799,17 miliar, meningkat Rp 336,86 miiar atau 72,87 persen dibandingkan posisi Desember 2017 yang tercatat sebesar Rp 462,30 Miliar. Walau demikian tambahnya, kualitas kredit sedikit menurun.
Menurutnya, penggunaan KUR oleh pelaku usaha mikro dan kecil, mayoritas masih dimanfaatkan untuk modal kerja usaha
Ini tercermin dari penggunaan KUR untuk modal kerja mencapai Rp 546,33 miliar atau 68,38 persen dari total KUR, sedangkan untuk investasi sebesar Rp 252,72 miliar atau 31,62 persen.
Dikatakan, penyaluran kredit kepada Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) melalui program Kredit Usaha Rakyat (KUR) terus menjadi fokus utama pemerintah dan OJK.
“Upaya pembiayaan pada sektor usaha ini diharapkan mampu menyentuh langsung kebutuhan permodalan masyarakat dalam
mengembangkan  usaha dan memperkuat ketahanan ekonomi rakyat,” harap Hermanto.
Sementara jika dilihat KUR menurut plafon kredit, jenis KUR MIKRO masih mendominasi dengan baki debet sebesar Rp 564,31 miliar atau 70,61 persen dari total baki debet penyaluran KUR, sedangkan KUR RITEL tercatat sebesar Rp234,86 miliar atau 29,39 persen dari total KUR.
Sebagai lnformasi, KUR Mikro diberikan dengan plafon maksimal Rp 25 Juta sedangkan KUR RITEL diberikan dengan plafon Rp 25 juta sampai dengan Rp 5OO juta.
Dikatakan, untuk mendorong pertumbuhan usaha produktif skala mikro dan kecil di Provinsi Maluku, target plafon penyaluran KUR tahun 2018 meningkat menjadi Rp736,34 miliar.
Hermanto menjelaskan, untuk periode hingga September 2018 (Januari s.d. September 2018) telah tersalurkan plafon KUR sebesar Rp 479,17 miliar atau 65.07 persen dari target.
Untuk diketahui di Provinsi Maluku, posisi saat ini bank penyalur KUR sebanyak 3 (tiga) bank yakni PT BRI, PT Bank Mandiri dan PT BNI.
Penyaluran KUR ini menjadi perhatian OJK dan pemerintah sehingga OJK bersama dengan Dirjen Keuangan Negara, Bank Indonesia, SKPD terbit dan bank pelaksana KUR sepakat untuk melakukan forum koordinasi secara berkala guna memantau dan mengevaluasi perkembangan KUR dan permasalahan-permasalahan di lapangan.
Pada triwulan Ill tahun 2018, penyaluran kredit UMKM di Provinsi Maluku meningkat sebesar 10.57 persen (yoy) atau senilai Rp301,76 Miliar menjadi Rp3,16 Triliun. Pertumbuhan tersebut Iebih tinggi dibandingkan triwulan l! tahun 2018 yang tercatat sebesar 6,44 persen (yoy). Penyaluran kredit UMKM masih didominasi kepada usaha kecil yang mencapai Rp1,38 Triliun atau sebesar 43,75 persen dari total kredit UMKM.
Sementara NPL kredit UMKM posisi September tahun 2018 tercatat sebesar 3,22 persen, Iebih tinggi dari triwulan ll tahun 2018 yang tercatat sebesar 2,88 persen dimana secara nominal peningkatan NPL terutama terjadi pada Kredit Mikro dan Menengah yang masing-masing meningkat sebesar Rp 5,92 Miliar dan Rp2,12 Miliar. Namun persentase kredit bermasalah ini masih dibawah NPL kredit UMKM nasional yang tercatat sebesar 3,98 persen dan NPL indikatif nasional yang maksimal sebesar 5 persen. (on)

Tinggalkan Balasan