BPOM Ambon Amankan 41.672 OT TIE

AMBON, MG.com – Badan Pengawsan Obat dan Makanan (BPOM) Ambon, berhasil mengamankan 41.672 Obat Tradisional Tanpa Ijin Edar (OT TIE). Demikian disampaikan Kepala Badan POM Ambon, Hariani kepada wartawan saat konfrensi pers yang digelar di ruang rapat Kantor BPOM, Senin (15/10/2018).

Hariyani menjelaskan, ke 41.672 OT TIE tersebut  terdiri dari 108 item obat tradisional tanpa ijin edar, barang expire serta kadarluarsa izin edar.

“OT TIE ini diamankan saat dilakukan inspeksi mendadak tim di sembilan sarana yang tersebar di dua tempat yakni,  di tujuh sarana di Kota Ambon dan dua sarana di Kabupaten Seram Bagian Barat ( SBB).

Diakuinya, secara ekonomis kerugian yang dicapai para TOB yakni pengecer kosmetik, disitributor obat kuat, pangan dan pengecer pangan mencapai  Rp.  133.067.100,-.

“Hasil sidak  yang dilakukan tim, ditemukan 27 item obat keras (Daftar G), OT TIE dengan jumlah  sebanyak 788 pices atau senilai 2.390.000, untuk 32 jenis sarana distributor pangan yang disidak hasilnya juga tidak memenuhi ketentuan dengan jumlah  yang diamankan sebanyak 433 pices. Ada juga satu item kosmetik milik pengecer yang telah expire date (Kosmetik ED) berjumlah 30.240 piecs, delapan item obat kuat expire sebanyak 193 pices, 19 jenis obat kuat tanpa memenuhi ketetuan ( TMK) sebanyak 333 pices, senbilan item pangan yang ijin edarnya kadarluarsa sebanyak 96 pices, termasuk satu distributor obat tradisional illegal yang memiliki dua item dengan 7.420 pices yang berhasil diamankan,” jelasnya.

Menurut Haryani, OT TIE yang diamankan terdiri dari berbagai jenis yakni, tawon liar, sari buah naga, jamu aden, montalin, antanan, tongkat ajimat madura, okura, geerng jos, king cobra, new tanduk rusa, urat new madu, urat kuda, dan lainnya.

Ditegaskan, distributor yang ditemukan melakukan, pelanggaran secara sengaja maupun tidak, akan dipanggil oleh BPOM.

Permasalahan ini akan dibahas secara internal oleh penyidik BPOM. Jika perlu maka perkara ini akan diproses pidana.

Sesuai Undang- Undang Kesehatan Nomor 36 Tahun 2009 pasal 196 dengan jelas menyebutkan, setiap orang yang dengan sengaja memproduksi atau mengedarkan sediaan farmasi dan atau alat kesehatan yang tidak memenuhi standar dan atau persyaratan keamanan, khasiat atau kemanfaatan, dan mutu dipidana penjara paling lama sepuluh tahun dan denda paling banyak 1 Miliar rupiah.

“UU sudah jelas, distributor yang berulang kali lakukan hal yang sama dan tidak megindahkan teguran dan bimbingan BPOM akan ditindak sesuai dengan aturan yang berlaku,” jelas Hariani.

Untuk itu Haryani berharap partisipasi aktif masyarakat guna mencegah obat maupun makanan yang tidak layak edar beredar dan dikonsumsi masyarakat. “Jika masyarakat mengetahui hal ini tolong dilaporkan ke BPOM,” ingatnya.  (MG)

Tinggalkan Balasan