Industri Hulu Migas Ciptakan Multiplier Effect Bagi Daerah

AMBON, MenaraGlobal.com-Kehadiran industri hulu minyak dan gas bumi (migas) tidak hanya memberikan manfaat langsung berupa dana bagi hasil migas, tetapi juga memberikan manfaat tidak langsung dengan mendorong tumbuhnya perekonomian di kawasan sekitar wilayah operasi.

Hal ini mengemuka dalam acara Media Gathering yang diadakan oleh SKK Migas dan Kontraktor Kontrak Kerja Sama (Kontraktor KKS) Wilayah Papua dan Maluku (Pamalu), Rabu (23/5/2018), di Ambon.

Pengamat migas Papua Barat DR. Stepanus Malak, Drs, Msi, mengatakan kota dan Kabupaten Sorong merupakan contoh multiplier effect industri hulu migas dalam mengembangkan daerah. “Fakta menunjukkan bahwa sumber energi minyak dan gas bumi membawa perubahan peradaban baru bagi Kabupaten Sorong dan sekitarnya,” ujar Stepanus Malak.

Dikatakan, survei seismik di sekitar Sorong telah dimulai tahun 1935, sebelum Indonesia merdeka dan struktur pemerintahan terbentuk di kawasan tersebut.

“Setelah adanya investasi dari industri hulu migas akan diikuti dengan investasi berikutnya baik dari sektor pendukung hulu migas, maupun sektor lain yang berkembang seiring dengan berkembanganya kawasan tersebut,” katanya.

Hal inilah yang mempercepat pertumbuhan ekonomi di kawasan tersebut.

“Kesejahteraan meningkat seiring berputarnya roda perekonomian yang berasal dari tumbuhnya industri-industri baru di Sorong,” ujar Stepanus Malak.

Ditambahkan, mengingat strategisnya peran sektor hulu migas bagi perkembangan sebuah daerah, maka diharapkan pemerintah daerah dapat mendukung kegiatan hulu migas di daerahnya.

Bentuk dukungan yang bisa diberikan antara lain  mempermudah perizinan, menyiapkan aturan yang dapat mendukung, berperan aktif dalam penyelesaian permasalahan di lapangan, dan membuat kebijakan tentang dana bagi hasil migas bagi masyarakat di ring satu.

“Pemerintah daerah harus berikan kemudahan, jangan mempersulit. Kalau kita semangat, perusahaan migas juga akan semangat,” ujar Stepanus Malak.

Acara media gathering juga menghadirkan narasumber akademisi dari Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta Listya Endang Artiani SE MSi CSRS.

Menurut Listya, kegiatan hulu migas setidaknya industri hulu migas Indonesia menciptakan tiga  proses multiplier effects pada perekonomian regional dan nasional.

Tiga dampak tersebut merupakan dampak langsung, dampak tidak langsung dan dampak induksi.

Dampak langsung merupakan dampak yang dirasakan oleh operator migas dan provider layanan migas.

Sedangkan dampak tidak langsung merupakan dampak yang menggerakkan sektor transportasi, industri hilir, informasi, teknologi dan lainnya.

Dampak induksi merupakan dampak positif industri hulu migas bagi sektor utilitas, infrastruktur, keamanan nasional, dan lainnya.

“Pola dampak aktivitas industri hulu migas pada perekonomian daerah idealnya dilihat secara historis, yaitu sebelum operasi, pada saat operasi, dan setelah operasi berakhir,” ujar Listya. Ditambahkannya, besaran kuantitatif multiplier effect dari kehadiran industri hulu migas di daerah dapat dihitung dengan modelling ekonomi. (On)

 

 

Tinggalkan Balasan