Tak Serius, Pembina PGRI Semprot Pengurus Baru

AMBON, MenaraGlobal.com-Pembina Yayasan PGRI Maluku, Mohammad Saleh Thio mengaku tersinggung dengan ketidakseriusan pengurus Yayasan PGRI Maluku saat proses Pelantikan Pengurus Yayasan PGRI Maluku periode 2015-2019 yang dilaksanakan di aula Dinas Pendididikan dan Kebudayaan Provinsi Maluku,Kota  Ambon, Jumat (26/01/2018).

Ketersinggungan ini disebabkan saat proses pelantikan berlangsung pengurus yang dilantik tidak serius mengucapkan sumpah/janji sehingga harus diulang beberapa kali. “Saya tersinggung, kesannya pelantikan ini tiba saat tiba akal,” katanya jengkel sebelum memulai sambutannya.

Bahkan Thio sempat menanyakan kepada pembawa acara apakah sempat dilakukan latihan. “Ibu, apakah sebelum pelantikan dilakukan latihan ? “ tanya Thio. Pertanyaan tersebut dijawab dengan anggukan kepala sang pembawa acara.  Anggukan kepala tersebut makin menjengkelkan Thio. “Kalau latihan kok bisa begitu ?” katanya tak percaya dengan ulah pensiunan guru serta guru aktif tersebut.

Menurut Thio ketidakdisiplin pengurus Yayasan PGRI saat  dilakukan pelantikan dua kali ditemuinya yakni pelantikan Pengurus Yayasan PGRI Maluku dan Kabupaten Maluku Tenggara. “Hal ini terjadi dua kali yakni di Maluku Tenggara dan saat ini, kalau pelantikan ini dianggap main-main tidak usah dilaksanakan, sebab kesannya tiba saat, tiba akal,” kesalnya.

Selanjutnya, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Maluku ini menjelaskan, sesuai dengan SK yang telah diterbitkan yakni untuk periode 2015 hingga 2019 namun baru dilaksanakan pelantikan saat ini. “Ini bukan baru diperrsiapkan namun persiapannya telah lama, namun karena waktu dan kondisi sehingga baru dilaksanakan pelantikannya.

Yayasan atau lembaga hukum yang telah dilaksanakan sejak organisasi ini menjadi tuntutan yang harus dilaksanakan dengan semangat. “Oleh karena itu saya berharap, pengurus yayasan yang baru untuk melanjutkan pekerjaan yang telah dilakukan pengurus sebelumnya,” jelas Thio.

Thio juga berpesan kepada pengurus yang baru dilantik agar segera membenahi pekerjaan yang belum sempat dilaksanakan oleh pengurus lama, antara lain, memvalidasi sekolah dibawa Yayasan PGRI, juga mengidentifikasi dan inventarisai guru dan aset milik yayasan. Hal ini harus dillaksanakan juga pembinaan dengan menyesuaikan dan pertimbangan agenda-agenda di daerah ini.

Sebagai contoh, Yayasan PGRI tidak berkewenangan menentukan kepala sekolah PGRI. Yayasan hanya berkewenangan mengatur guru atau pegawai yayasan tapi bagi guru berstatus PNS harus berkoordinasi dengan Dinas Pendidikan.

Dirinya yakin pengurus baru dibawa kepemimpinan Alberth Tabalessy  roda organisai Yayasan PGRI Maluku akan berlangsung dengan baik.

Thio juga berpesan agar pengurus baru segera lakukan konsolidasi dengan baik agar tujuan organisasi PGRI akan tercapai. “Dengan semangat ini maka sekolah-sekolah PGRI akan menjadi salah satu sekolah terbaik di daerah ini,” katanya memberikan semangat.(DW)

 

 

 

Tinggalkan Balasan