Prioritas Pasien Rujukan, Yeremias Tahan KM. Sanus 104

  • Whatsapp
banner 468x60

AMBON, MG.com – Rentang kendali yang dihadapi masyarakat pulau terluar adalah sulitnya akses transportasi. Hal ini juga dialami masyarakat Pulau Wetar di Kabupaten Maluku Barat Daya (MBD).
Selain minim akses transportasi juga kurangnya sarana kesehatan lantaran tidak tersedianya tenaga kesehatan yang memadai menyebabkan masyarakat memilih untuk berobat di daerah terdekat. Dan daerah yang dipilih masyarakat Pulau Wetar selama ini adalah Timor Leste Distrik Atauru, dibandingkan berobat di Tiakur atau Kota Ambon.

Sebab, secara geografis, letak Distrik Atauru sangat dekat jika dibandingkan dengan jarak tempuh ke ibukota Kabupaten MBD maupun ke wilayah di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) apalagi ke Ibukota Provinsi Maluku, Kota Ambon.

Bacaan Lainnya

banner 300250

Namun, pilihan masyarakat Pulau Wetar untuk berobat di Distrik Atauru Timor Leste dikuatirkan aggota DPRD Maluku, Anos Yeremias.
“Saya kuatirkan jika warga berobat ke Timor Leste. Karena itu saya tahan KM Sabuk Nusantara (Sanus) 104 yang akan ke Kebupaten Kabalahi Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) untuk membawa pasien rujukan ke sana dari pada mereka berobat ke Distrik Atauru Timor Leste karena ini menyangku wibawa negara,” tegas Yeremias kepada wartawan di Ruang Komisi III DPRD Maluku, senin (31/01/2022).

Awal dilakukannya penahanan terhadap KM Sabuk Nusantara 104, kata Yeremias, dilakukan setelah dirinya dihubungi Ketua Majelis Jemaat GPM Ustutun, Pulau Lirang yang berdekatan dengan Negara Timor Leste.
Koordinasi dilakukan agar jemaat yang sakit parah dirujuk ke rumah sakit terdekat yakni ke Kabupaten Kalabahi atau Kota Kupang Provinsi NTT.
“Saya kemudian menghubungi Kepala Unit Penyelenggara Pelabuhan Kisar yang membawahi Wilayah Kerja (Wilker) Lirang dan Wilker lainnya di MBD, dan ada KM sabuk Nusantara 104 yang akan menyinggahi Kabupaten Kalabahi.
“Kapal tersebut ditahan sebentar sambil menunggu evakuasi warga dari rumah sakit ke kapal karena di Lirang kekurangan oksigen serta obat-obatan lainnya kondisi emergency makanya saya minta kapal ditahan hingga pasien naik baru kapal berangkat,” jelasnya.
Ternyata, diatas kapal tersebut ada juga pasien rujukan dari Desa Arwala di Pulau Wetar.
“Pasien itu juga dirujuk ke Kalabahi untuk berobat. Memang warga setempat lebih memilih berobat ke NTT. Makanya saya minta maaf kepada pengguna jasa KM Sabuk Nusantara 104 kalau kapal mengalami keterlambatan,” bebernya. (D2)

banner 300x250

Pos terkait

banner 468x60