Lindungi Bahasa Daerah, Maluku Butuh Regulasi Perlindungan Bahasa

  • Whatsapp
banner 468x60

AMBON, MG.com – Kantor Bahasa Indonesia (KBI) Provinsi Maluku mendorong adanya regulasi berupa Peraturan Daerah (Perda) untuk melindungi bahasa daerah agar tidak punah dan penguatan penggunaan bahasa Indonesia.

Hal ini disampaikan Kepala Kantor Bahasa Provinsi Maluku, Sahril, saat memberi materi pada kegiatan peningkatan kompetensi berbahasa Indonesia bagi wartawan media massa daring, di hotel Pacific, Senin (14/6/2021).

Ia menyebutkan, di Maluku ada sekitar 65 bahasa daerah. Provinsi terbanyak ke-4 setelah Papua yang memiliki 326 bahasa, 102 di Papua Barat dan 71 bahasa di Nusa Tenggara Timur. Namun, di seluruh Indonesia, hanya di Jawa dan Sumatra yang memiliki regulasinya. Baru ada 13 provinsi di Indonesia yang memiliki Perda tentang perlindungan bahasa.

“ Bahasa daerah terbanyak di Indonesia Timur. Saya lagi berjuang supaya pemda membuat peraturan daerah tentang perlindungan bahasa daerah,” ungkapnya.

Dikatakan, menurut Unesco, bahasa daerah akan punah jika jumlah penuturnya dibawah 10.000 orang. Di Maluku, hanya 9% saja komunitas yang menggunakan bahasa daerah. Jika tidak dilindungi, kekayaan bahasa daerah ini akan punah. Padahal bahasa adalah aset bangsa.

“ Keberadaan bahasa itu seperti kartu identitas yang dibawa sehari-hari. Dengan mengekspresikan bahasa tertentu, kita telah menunjukkan siapa diri kita,” jelasnya.

Kantor Bahasa Provinsi Maluku, kata Sahril, telah menyurati Komisi IV DPRD Provinsi Maluku untuk membahas masalah ini dan pihaknya bersedia untuk menyusun naskah akademiknya. Belum ada respon dari pihak dewan.

Ia membandingkan dengan negara tetangga, Malaysia yang hanya memiliki 48 bahasa namun telah didaftarkan ke Unesco dan diakui. Padahal setelah ditelusuri, bahasa yang ada di Malaysia adalah bahasa Melayu, India dan Cina saja, selebihnya adalah dialek dan sub dialek. Mereka mengklaim bahasa Jawa bahkan bahasa Ambon sebagai milik mereka.

“ Semua naskah di Maluku ada di Malaysia. Ada puisi tentang pahlawan perempuan Maluku yang ditulis oleh sutradara dari Kuala Lumpur, dia belum pernah sama sekali pergi ke Maluku,” jelasnya.

Menurutnya, bahasa daerah bisa menunjukkan eksistensi melintasi anak bangsa. Bahasa daerah yang dipertahankan di luar tempatnya tetapi nilai rasanya pasti berbeda. (D2)

banner 300x250

Pos terkait

banner 468x60