de Lima : Ambon Belum Siap Jadi Destinasi Wisata Unggulan
AMBON, MG – Kapal pesiar MV. Boudicca yang mengangkut wisatawan manca negara (Wisman) sebanyak 927 orang menyinggahi Kota Ambon, Minggu (19/01/2020)
Kapal berbendera Bahamas yang berlayar dari New Zealand, Papua Nugini, Ambon dan Bali.
“Selama berada di Ambon dari jam 07.00 Wit hingga jam 18.00 wit mereka lakukan tour Pulau Ambon,” kata Hellen Sarita de Lima penyelenggara event tersebut kepada Spektrum di Kantor Gubernur Maluku, kemarin..
Menurutnya, ada tiga kategori tour yang dilaksanakan guna memanjakan para wisman.
Para wisman dibagi atas tiga kelompok tour yakni kelompok Discovery Ambon. Kelompok ini melakukan perjalanan tour ke Museum Siwalima – Patung Christina – War Cemetery Australia di Tantui, langsung ke Negeri Suli Kecamatan Salahutu Maluku Tengah tepatnya di lokasi Penyulingan Minyak Kayu Putih juga Plantation yakni tanaman cengkeh, pala serta tumbuhan tropis misalnya nenas, kopi dan lainnya.
Perjalanan diteruskan ke Dusun Larooy untuk melihat belut atau morea.
“Di Waai lagi gempa, orang pada ke hutan jadi wisatawan di bawa ke Dusun Larooy,” kata de Lima.
Selanjutnya, perjalanan dilanjutkan ke Dusun Amarumatena masih di Negeri Suli, untuk melihat proses pembuatan makanan dari bahan dasar sagu, misalnya, papeda juga bakar sagu dan lainnya serta ke Pantai Natsepa menikmati pertunjukan Bamboo Gila.
Sedangkan untuk kelompok Culture, perjalanan dimulai dari Museum Siwalima perjalanan dilanjutkan ke Patung Christina, langsung ke Suli Atas ke tempat penyulingan minyak kayu putih lanjut ke Plantation Salahutu dan turun ke Pantai Natsepa.
Dan terakhir, kelompok Becak Tour mengelilingi Kota Ambon mulai dari Pelabuhan Yoos Sudarso-Pasar Gotong Royong-Gong Perdamaian-Pattimura Park-Gereja Maranatha-Petak 10 dan terakhir ke Masjid Al fatah.
Menurut de Lima, dengan diselenggarakan event seperti ini akan berdampak positif bagi pariwisata di Pulau Ambon dan Maluku secara keseluruhan.
Namun kata de Lima, yang perlu dicermati Pemda adalah meningkatkan fasilitas pada objek wisata.
Sebab, menjadi objek wisata harus ada unsurnya yakni ada objek, ada daya tarik dan ada kesan yang bisa diambil dari objek tersebut.
“Kalau tidak ada ketiga unsur ini, apa yang mau dijual, sebagai penyelenggara yang menjual potensi wisata kami bukan hanya sekedar menjual tapi juga dituntut harus berbuat sesuatu untuk meningkatkan daya tarik kalau tidak apa yang mau dijual, dan ini harus menjadi perhatian,” jelasnya.
Sebagai penyelenggara kata de Lima, pihaknya harus mengupayakan peningkatan daya tarik dan ini membutuhkan coz.
“Terpaksa kita jual dalam paket dan ini menjadi mahal. Bagaimana bisa mendatangkan banyak turis kalau paket dijual mahal, sedangkan kita ini sudah jauh, bagaimana mau bersaing dengan daerah yang lain, dan ini harus menjadi perhatian,” katanya.
Dikatakan, Maluku khususnya Kota Ambon, belum siap menjadi destinasi pariwisata unggulan.
de Lima berharap, dengan adanya event seperti ini bisa mengkoreksi pemerintah agar bersama pihak ketiga membangun pariwisata menjadi lebih baik.
“Saya sebagai pihak ketiga tugasnya mendatangkan wisatawan, saya bertugas menjadi Public Relation (PR) daerah untuk mendatangkan tamu ke sini tapi bukan bertugas menyiapkan, meningkatkan serta memaksimalkan objek wisata, ini tidak fair, saya bertugas hanya mendatangkan wisatawan,” katanya.
Dalam penilaian de Lima selaku pelaku wisata, saat ini Kota Ambon sangat tidak teratur.
Dia mencontoh kondisi Pattimura Park. “Dari luar sepintas terlihat bagus, tapi sebagai orang pariwisata akan muncul pertanyaan apa yang bikin orang tertarik ke sini ? Jawabnya tidak ada,” tegas de Lima.
Saat ini, tidak ada daya tarik di Kota Ambon yang layak dijual ke wisman. “Mungkin saat ini Pemkot Ambon berpikir apa yang telah dilakukan mampu membuat wisatawan senang, padahal tidak. Tidak ada pertunjukan khas Maluku, padahal selama ini orang – orang di Dinas Pariwisata Maluku sering bertandang ke luar negeri, namun apa yang telah dilakukan untuk Provinsi Maluku ?” katanya. (On)









