Setelah TNI-Polri Giliran Pemprov Maluku Sambangi  Suku Mausu Ane

AMBON,MG- Setelah TNI-Polri sambangi Komunitas Adat Tertinggal (KAT) dari Suku Mausu Ane, Negeri Maneo Rendah, Kecamatan Seram Utara Timur Kobi, Kabupaten Maluku Tengah (Malteng) dan memberikan bantuan kini giliran.

Dua minggu pasca ditemukannya korban meninggal di kawasan tersebut yang diduga akibat kelaparan barulah Pemerintah Provinsi Maluku menggelar Rapat Koordinasi (Rakor) dengan Organisasi Perangkat Daerah (OPD) terkait, yang dipimpin Kepala Biro (Karo) Hukum dan HAM Setda Maluku, Hendry Far-far.

Saat rapat Far-far menegaskan sejak awal Pemprov telah melakukan koordinasi serta melakukan aksi langsung dengan mendistribusikan bantuan yang dibutuhkan.

“Sejak awal, Pemprov Maluku sudah mengambil langkah koordinasi dengan Pemkab Malteng, berdasarkan koordinasi itu telah diturunkan bantuan tanggap darurat dari Pemprov Maluku maupun oleh Kabupaten Malteng,” katanya saat rapat yang berlangsung di ruang kerja Asisten I Setda Maluku, Rabu (1/8/2018).

Rapat dihadiri OPD terkait antara lain Dinas Sosial (Dinsos) Provinsi Maluku, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Maluku, Dinas Pertanian Provinsi Maluku, Dinas Kesehatan dan Biro Humas dan Protokol Setda Maluku.

Far-far menjelaskan, pemerintah tetap menjaga keutuhan dan keberadaan kehidupan komunitas ini, dengan memberikan bantuan baik bahan pangan maupun obat-obatan.

“Pemerintah tetap memberikan bantuan dan obat-obatan dalam rangka mendukung kehidupan mereka,” tandasnya.

Berkaitan dengan merebaknya informasi terkait relokasi terhadap masyarakat KAT, Far-Far menegaskan harus atas persetujuan dan kesepakatan masyarakat adat itu.

“Kalau soal relokasi, itu tidak pernah direncanakan Pemprov Maluku maupun Pemkab Malteng, karena relokasi harus berdasarkan kesepakatan masyarakat adat itu,” tegasnya.

Sementara itu,  Sekretaris Dinsos Pemprov Maluku, Frangky Taniwel menjelaskan,  sejak mengetahui adanya bencana ini, langsung berkoordinasi dengan Dinsos Malteng dan mendistribusikan bantuan berupa beras, matras, selimut dan paket anak-anak serta paket buat warga lanjut usia (Lansia).

“Saat ini, Dinsos Kabupaten Malteng memberikan bantuan berupa peralatan masak juga tenda gulung dan selimut. Selain itu, telah dipasang 10 tenda sebagai tempat penampungan sementara yang disepakati bersama,” jelasnya.

Menurut Taniwel, pihaknya juga membentuk Tim Gabungan yang melibatkan Kemensos dan Dinsos Kabupaten Malteng.

“Pendampingan psikososial juga dilakukan oleh tim gabungan selama dua hari di lokasi penampungan sementara. Masyarakat umumnya tidak dapat berbahasa Indonesia dan lokasi pemukiman mereka sangat jauh dari perkampungan warga lainnya,” terangnya.

Dia menuturkan, jarak tempuh dari lokasi penampungan sementara hanya dapat dilakukan dengan berjalan kaki dengan jarak tempuh selama lebih kurang dua hari berjalan.

Menanggulangi bencana yang dihadapi komunitas adat, lanjut Taniwel, tentunya ditemui  permasalahan, antara lain pemukimannya yang tidak layak dari semua aspek serta tidak dimilikinya sarana lain seperti rumah singgah, balai sosial maupun balai kesehatan.

“Permasalahan lainnya adalah perkebunan warga yang tidak lagi memberi hasil yang dapat menyambung kehidupan mereka termasuk bahan pangan yang telah diberikan pemerintah hanya untuk kurun waktu tertentu,” ungkapnya.

Taniwel mengatakan, pihaknya telah mengusulkan kepada Kemensos agar pemberian santunan bagi ahli waris korban meninggal serta bantuan jaminan hidup termasuk beras, pakaian dan bahan kebersihan.

“Juga bantuan keserasian sosial termasuk pembuatan rumah singgah, balai pertemuan, setidaknya ada tempat alternatif yang mudah di akses oleh semua kepentingan,” tuturnya.

Selain Dinsos Maluku, bantuan juga diberikan oleh BPBD Maluku. Bantuan didistribusikan seteleh berkoordinasi dengan berbagai pihak yang langsung turun ke lokasi bencana. (**)

Tinggalkan Balasan