Besok, Tim Kementerian PUPR Tiba di Ambon

Menhub Tinjau Unpatti

AMBON, MG.com – Besok, Sabtu (28/09/2019) Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) RI, Basuki Hadimuljono akan mengirim tim untuk meninjau tingkat kerusakan yang terjadi pada Gedung Rektorat, Kampus Fakultas Pertanian dan Kampus Fakultas Kedokteran Unpatti Ambon.
Demikian disampaikan Menteri Perhubungan RI, Budi Karya kepada wartawan usai berkomunikasi dengan Menteri PUPR melalui telepon selulernya, di Gedung Rektorat Unpatti, Jumat (27/09/2019).

Menurut Menhub, setelah melihat tingkat kerusakan di Unpatti, dalam penilaiannya, kerusakan tidak signifikan.
Artinya struktur bangunan masih bagus. Namun nantinya, tim bentukan Menteri PUPR yang berwenang menetapkan layak tidaknya satu gedung digunakan atau tidak.
“Kalau layak, dibersihkan dan digunakan sambil direnovasi. Tapi kalau nanti tidak layak, tentu harus ditinggalkan, harapan kita, gedung ini tetap eksis sehingga bisa digunakan,” harapnya.

Sementara itu, Rektor Unpatti, Prof. Dr. M.J Saptenno membenarkan ada tiga gedung di Unpatti yang mengalami kerusakan akibat gempa tektonik sebesar 6,8 SR pada Kamis, (26/09/2019).
“Lokasi yang mengalami retak parah akibat gempa terdapat di Fakultas Kedokteran, Gedung Rektorat juga Fakultas Pertanian jurusan Peternakan,” jelas Saptenno saat menemani Menteri Perhubungan (Menhub) Budi Karya Sumadi dan Gubernur Maluku Murad Ismail saat meninjau kerusakan Gedung Rektorat Unpatti, Jumat (27/9/2019).

Saptenno menjelaskan, pihaknya belum bisa memastikan kapan kuliah akan berjalan normal. Walau demikian, Saptenno berharap, Senin (30/09/2019) kuliah sudah bisa berlangsung.
Hanya saja, tambahnya, perlu koordinasi lebih dahulu dengan Dekan Fakultas Kedokteran tentang ruangan kuliah sebab Fakultas Kedokteran yang paling parah terdampak gempa.
“Hari Senin kita mulai aktif kuliah kembali, melihat kondisi. Tapi di Fakultas Kedokteran agak parah, nanti saya koordinasi dengan dekan lagi. Apakah ruangan masih bisa dimanfaatkan atau tidak. Memang beberapa lantai itu agak parah, retak-retaknya cukup banyak. Jadi kami masih takut untuk menggunakannya,” jelas Saptenno. (On)

Tinggalkan Balasan