Tiket Pesawat Melambung, Sebagian Mahasiswa Perantau Batal Mudik

Oleh : Elva Muzdalifa Buamona

Mahasiswa begitu antusias dengan hadirnya Bulan Ramadhan, jutaan kaum muslim mereka menyambut Ramadhan dengan bersuka cita, bergembira dan senang. Berbondong-bondong melakukan ibadah dan kajian yang dilakukan mulai dari instansi pemerintah, kantoran, sampai mejalis pengajian, dan adapun yang melaksanakan bukber (buka bersama) untuk mempererat tali silaturahmi antar sesama muslim.

Bulan Ramadhan sudah tentunya berbeda dengan bulan-bulan yang lain pada umumnya, dimana pada bulan ini semua terlihat begitu berbeda. Salah satunya adalah perubahan pola makan, tata bicara, maupuan cara berpakaian.

Namun Lebaran adalah momen yang ditunggu-tunggu semua orang, terutama yang dialami oleh mahasiswa yang tinggal di daerah perantauan, dimana pulang kampung dan bertemu dengan orang tua, serta keluarga adalah hal yang sangat di nantikan.

Namun berbeda dari tahun-tahun sebelumnya dimana pada tahun 2019, kini harga tiket pesawat sangat melambung tinggi. Hal ini kemudian membuat resah seluruh masyarakat terutama bagi mahasiswa perantatuan, sebab dengan adanya kebijakan seperti ini para mahasiswa kemudian meluapkan keluh kesahnya kepada pemerintah, karena dinilai kebijakan yang dibuat tanpa pandang bulu.

Perekonomian suatu wilayah yang terkenal akan pariwisatanya, tentu saja sangat berpengaruh dengan adanya kebijakan seperti ini, para wisatawan dalam negeri pun akan memilih berlibur ke luar negeri karna tiket penerbangan domestik dinilai sangatlah mahal jika dibandingkan dengan penerbangan internasional.

karna dilihat begitu mahalnya harga tiket diakhir bulan dan padatnya masyarakat yang nantinya akan memenuhi sepanjang jalan arus mudik. Namun terlepas dari itu nantinya akan diadakan mudik gratis saya nilai bahwa ini hanya berlaku bagi masyarakat yang akan menggunakan transportasi bus dan damri saja, kasian bagi mereka yang harus melintasi pulau-pulau dengan menggunakan pesawat terlebih lagi mahasiswa yang mata pencaharian orang tuanya itu hanya buru tani, nelayan, pastinya mereka tidak bisa mengambil keputusan untuk pulang, Harusnya pemerintah disini bisa mengsiasati hal ini, sekalipun inflasi tinggi tapi harus bisa mencari solusi lain dengan tidak mengorbankan harga tiket pesawat juga.

Mahasiswa merasa sangat dirugikan, keinginnya untuk pulang kampung kini terhenti akibat melonjaknya harga tiket pesawat yang dinilai kurang wajar, kami tidak setuju dengan naik nya harga tiket pesawat yang sangat melonjak drastis, karena rata-rata pendapatan orang tua kami ini menengah kebawah otomatis kami sudah tidak mampu membeli harga tiket yang mahal. Masih mending mereka yang menengah keatas hal itu menjadi sangat mudah bagi mereka untuk dapat mengakses pulang ke kampung halaman.

Mahasiswa kemudian mendesak menteri perhubungan Budi Karya, agar menurunkan harga tiket pesawat atau turun dari jabatannya, sesuai dengan pancasila pada sila ke-5 keadilan sosial bagi seluruh rakyat indonesia, mahasiswa menilai bahwa budi karya tidak peduli dan tidak mengamalkan pancasila sehingga semena-mena atas apa yang telah diperbuat. (*)

Tinggalkan Balasan