Bawang Putih Mahal, Kemendag Pertemukan Importir dan Distribusi

AMBON, MG.com – Tingginya harga bawang putih di Maluku saat ini mendorong Kementerian Perdagangan mengambil langkah cepat mempertemukan distributor dengan importir yang telah mengantongi izin import bumbu masak ini.
“Untuk Maluku akan kita gelontorkan bawang putih melalui distributor dan akan kita pertemukan mereka dengan importir yang saat ini telah memperoleh izin import dari Kementetian Perdagangan dan importir telah menjamin dalam bulan ini bawang putih akan masuk ke Ambon,” kata Suhanto
Staf Ahli Menteri Perdagangan Bidang Iklim Usaha dan Hubungan Antar Lembaga Kementerian Perdagangan, kepada wartawan usai Rapat Koordinasi Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Maluku dalam rangka stabilisasi harga dan pasokan barang kebutuhan pokok jelang bulan Ramadhan dan hari raya Idul Fitri 1440/H tahun 2019 di Lantai tujuh Kantor Gubernur Maluku, Selasa (30/4/19).

Suhanto berharap, harga bawang putih di Maluku secepatnya stabil, sebab pada bulan Januari lalu, harga bawang putih masih berkisar Rp 30.000 – Rp 35.000/kg namun saat ini harga tersebit telah melonjak hingga Rp 50.000/ kg.
“Karena bawang putih masih diimpor maka langkah Kementerian Perdagangan percepat bawag putih dari negara importir masuk ke Indonesia.

Secara keseluruhan, sesuai laporan bupati dan walikota ketersediaan bahan pokok jelang Ramadhan dan Idul Fitri mencukupi, khususnya bahan pokok industri maupun beberapa komoditi.
“Untuk ketersediaan beras laporan dari Kadivre Bulog, masih aman hingga lima bulan ke depan. Dan yang paling menggembirakan harga relatif turun. Kalau kita lihat di pasar harga beras medium masih dibawa HET,” kata Suhanto.

Walaupun demikian tambah Suhanto, ada laporan dari bupati dan walikota serta pantauan lapangan, ada komoditi yang alami kenaikan harga khususnya hortikultura misalnya bawang putih, bawang merah dan cabe
Menurut Suhanto, khusus untuk cabe, komoditi ini merupakan tanaman musiman dan sesuai laporan Kadis Indag Provinsi Maluku bahwa cabe sebagian besar dipasok dari Seram dan Pulau Buru, walaupun produksinya masih sangat kurang.

Untuk itu, lanjut Suhanto, pihaknya mengapresiasi himbauan Sekda Maluku agar masyarakat menanam cabe di pot. “Ini sangat bagus jika saja masyarakat mau menanam 5 pot tiap keluarga maka sudah cukup buat konsumsi tiap rumah tangga,” katanya. (on)

Tinggalkan Balasan