Komite Boikot Pemilu 2019 Serukan Golput

  • Whatsapp
banner 468x60

AMBON, MG.com – Ketidakpuasan mahasiswa dengan kondisi pemerintahan saat ini memicu mahasiswa yang bergabung dalam Komite Boikot Pemilu 2019 menggelar aksi damai di Tugu Dr. J. Leimena Desa Poka Kecamatan Teluk Kota Ambon, Senin (18/02/2019).

Dalam pernyataan sikapnya, pendemo yang didominasi mahasiswa asal Papua ini mengajak masyarakat khususnya pemyda untuk tidak menggunakan hak pilihnya. Menurut mereka, Pemilu 2019 semakin dekat, rakyat kembali dihadapkan pada pilihan yang tak ada bedanya dengan tahun-tahun sebelumnya.

“Tak ada pasangan yang memiliki program-program yang mampu menjawab tuntutan rakyat atas permasalahan demokrasi dan kesejahteraan, miskin rekam jejak dalam membela kepentingan rakyat, Sama sekali tak ada hal yang baru,” kata Chelfandy koordinauor aksi ini.

Sejak Pemilu tahun 1999, partisipasi pemilih terus menurun. Pada tahun 1999, partisipasi rakyat mencapai 92,6 persen turun menjadi 84,1 persen di Pileg 2004, dan pada Pilpres 2004 partisipasi pemilih turun menjadi 78,2 persen, tahun 2009 turun lagi menjadi 71,7 persen dan tahun 2014 turun menjafi 79,90 persen.
Adanya penurunan tersebut, meskipun sebagian merupakan andil dari kekacauan administratif penyelenggara Pemilu namun ini merupakan sinyal bahwa semakin banyak rakyat yang memilih untuk tidak berpartisipasi dalam Pemilu (golput).
Dari tahun ke tahun, ada Iebih banyak rakyat yang tak percaya, kecewa, atau bahkan muak terhadap sistem politik di negara ini.
“Golput adalah piiihan yang paling masuk akal. Dan itu menjadi sikap kami dalam Pemilu 2019 ini. Kami menyarankan agar rakyat tidak memilih partai dan calon-calon legislatif yang korup, partai yang menipu rakyat  yang satu barisan dengan para pelanggar HAM, yang anti kebebasan berpikir, berkumpul, berkeyakinan dan berpendapat, yang tidak memecah-belah rakyat dengan memainkan sentimen agama, yang tidak rasis, yang tidak dikendalikan militer, dan yang tidak dekat dengan kepentingan kapital,” serunya.

Pelibatan militer terus meningkat terutama selama masa pemerintahan Jokowi. Yang terakhir wacana pelibatan militer aktif dalam kementrian negara “sebagai implementasi dari Peraturan Presiden Nomor 62 Tahun 2016 tentang Perubahan atas Peraturan Presiden Nomor 10 Tahun 2010 tentang Susunan Organisasi Tentara Nasional Indonesia (TNI).

Dalam konteks Pilpres 2019, ada borjuasi dengan kekuatan kapital yang besar serta militer dan sisa-sisa Orde Baru yang terlibat dalam tim pemenangan baik di kubu Jokowi maupun Prabowo.
Aburiza! Bakrie, Moeldoko, Wiranto, Luhut Binsar Pandjaitan, Ryamizard Ryacudu, Chairul Tanjung, Eric Thohir, Hary Tanoesoedibjo, Surya Paloh, Riza Chalid, Djoko Santso, Widjojo Seojono, dan Iain-lain dan seterusnya.

Belum lagi dukungan dari ormas-ormas reaksioner terhadap para calon. Pelibatan militer dan sisa Orde Baru di kedua kubu cukup menunjukkan bahwa siapa pun yang terpilih nanti tak akan ada yang serius menghadang militer dalam berpolitik. Keterlibatan konglomerat juga menjadi tanda akan keberpihakan kedua kubu pada kepentingan borjuasi bukan pada kepentingan rakyat pekerja.

“Deretan hal tersebut memperkuat alasan mengapa kami memilih untuk tidak memilih. Memilih salah satu berarti mendukung masuknya militer dalam kehidupan sipil dan mendukung penindasan sistematis terhadao rakyat pekerja,” tegasnya.

Dalam permasalahan HAM keduanya segendang sepenarian  diskriminasi dan kriminalisasi kelompok minoritas dan aktivis, penyitaan buku, pembubaran kegiatan terus berjalan sepanjang pemerintahan Jokowi.
Juga tak ada kemajuan dalam menangani kasus-kasus pelanggaran HAM masa lalu. Permasalahan yang terjadi di Papua juga tak bisa dianggap enteng.
Puluhan bahkan ratusan ribu rakyat Papua dibunuh, disiksa, ditangkap, diperkosa, dipenjara tanpa ada proses hukum yang jelas.

“Deretan hal tersebut memperkuat alasan mengapa kami memilih untuk tidak memiiih. Memilih salah tak satu tak akan menghentikan pelanggaran HAM dan tak akan berdampak positif terhadap panyelesaian kasus-kasus peianggaran HAM,” katanya. (MG)

banner 300x250

Pos terkait

banner 468x60