Tiket Pesawat Melambung, Kapal Jadi Primadona

Djasman : Tiket Dijual Sesuai Kuota

AMBON, MG.com – Pasca melambungnya harga tiket pesawat, maka saat ini kapal menjadi primadona masyarakat.
Walaupun tidak ada lonjakan fantastis namun terjadi peningkatan penumpang sekitar 50 persen khusus untuk pelayaran ke Pulau Jawa atau ke bagian barat Indonesia.
Namun lonjakan tersebut tidak mempengaruhi penjualan tiket kapal milik PT Pelni.
Tiket kapal milik PT Pelni tetap dijual sesuai kuota atau sift, jadi dipastikan penumpang merasa nyaman.
Demikian dikemukakan Manager Usaha PT Pelni Cabang Ambon, Djasman kepada wartawan di ruang kerjanya, Kamis (7/02/2019).

Namun tambah Djasman, sering kedapatan ada penumpang yang tidur di jalan atau tempat yang tidak diperuntukan bagi penumpang.
“Ini tergantung karakter orang, penumpang selalu beralasaningin kena angin sebab jika tidak kena angin mabuk, panas dan lainnya,” katanya.

Terkadang ABK terpaksa lakukan pemaksaan terhadap penumpang agar mau menempati tempat yang disediakan. Namun upaya ini tidak membuahkan hasil,
penumpang dibiarkan memempati area yang diinginkan asal tetap aman..
“Safety kita utamakan, namun jika kondisi kapal kosong dan penumpang lebih banyak di luar maka ABK akan memaksa penumpang untuk masuk menempati tempat yang disediakan,” terangnya.

Djasman menjelaskan, saat ini kapal milik PT Pelni misalnya KM. Tidar, KM. Doloronda dan lainnya tidak lagi mengalami lonjakan penumpang seperti saat Natal dan Tahun Baru.

Diakui Plt. Kepala Cabang PT Pelni Ambon ini, bahwa saat mudik Natal dan Tahun Baru terjadi lonjakan penumpang yang luar biasa, sekitar 60 persen.
“Memang kapasitas sudah ditetapkan pemerintah yakni sekitar 2500 penumpang namun terjadi penambahan sekitar 60 persen sebagai dispensasi Kementerian Perhubungan yang berdampak ada penumpang tidak memperoleh tempat tidur atau sift kita agak kerepotan karena keterbatasan armada,” katanya.

Soal lonjakan penumpang saat Natal dan Tahun Baru lalu, untuk rute antar pulau di Maluku, pihaknya lakukan rekayasa trayek yakni menerapkan sistem bolak balik. “Seandainya kita tidak rekayasa trayek maka tidak cukup untuk mengangkut penumpang yang ada,” tandasnya.
Djasman mengakui, akibat terjadi lonjakan penumpang menimbulkan rasa tidak nyaman namun keamanan penumpang selama pelayaran tetap terjamin

Masalah lonjakan penumpang pada saat tertentu telah dilaporkan kepada Komiai V DPR RI, saat kunjungan kerja di Maluku belum lama ini.
Laporan ini penting agar ada kebijakan yang bisa diambil misalnya menambah armada kapal guna melayari rute di Maluku

Sebab, menurut Djasman, ada keistimewaan Ambon dibanding daerah lain, yakni dalam setahun terjadi dua kali lonjakan penumpang yakni saat Lebaran juga Natal dan Tahun Baru.
“Di daerah lain lonjakan penumpang hanya saat lebaran, namun di Ambon lonjakan penumpang terjadi dua kali setahun,” katanya. (on)

Tinggalkan Balasan