Penutupan FBV Gambus Diwarnai Aksi Walk Out

Jadi Juara Umum, Kontingen SBT Protes

AMBON, MG.com – Walaupun berhasil menyabet juara umum pada Festival Bintang Vokalis Gambus Provinsi Maluku, namun kontingen dari Kabupaten Seram Bagian Timur (SBT) memilih keluar dari ruangan saat pembacaan hasil perlombaan Bintang Vokalis Gambus Provinsi Maluku, Selasa (20/11/2018) di Gedung Islamic Center Ambon.
Aksi ini dipicu kekecewaan peserta dan pendamping lantaran jagoan mereka pada mata lomba vokalis pria dewasa yakni Achmad hanya berhasil meraih juara kedua sementara juara pertama diraih Saddam peserta dari Kota Ambon.
“Ini bentuk kecurangan yang dilakukan panitia dan dewan juri. Sebab, pada saat perlombaan berlangsung semua penonton juga mengakui jika Achmad lebih baik dari Saddam dan ini diakui salah salah satu dewan juri,” kata Acim  salah satu peserta dari SBT dengan suara lantang.
Mereka menyayangkan ketidakjujuran dewan hakim dan panitia dalam menentukan pemenang. “Pemenang akan mewakili Provinsi Maluku ke Jakarta bagaimana mungkin masib dilakukan ketidakjujuran seperti ini ? Akibatnya, sudah sembilab kali utusan Maluku untuk kategori nyanyi pria dewasa tidak sekalipun menyabet juara, karena penilaiannya tidak profesional,” katanya lagi.
Untuk diketahui, Festival Bintang Vokalis Gambus 2018 yang digelar sejak 16-20 November diikuti 46 peserta ditutup Gubernur Maluku, Ur. Sais Assagaff  yang diwakili Kepala Dinas Sosial Provinsi Maluku, Sartono Pining.
Dalam sambutan tertulisnya yang dibacakan Pining, Assagaff menegaskan penyelenggaran perlombaan religius seperti Festival Bintang Vokalis Gambus jangan dimaknai sebagai rutinitas atau serimonial semata, namun merupakan upaya komprehensif dalam rangka pembinaan kerohanian umat Islam.
Menurut Assagaff, melalui Festival Bintang Vokalis Gambus, akan meningkatkan pemahaman umat Islam terhadap ajaran-ajaran Islami, serta menjadi momentum startegis untuk membangun semangat ukhuwah Islamiyah diantara sesama umat Muslim, disamping itu dapat meningkatkan ekspresi masyarakat terhadap seni dan budaya di Maluku.
“Hal yang tentu juga patut diapresisasi oleh kita semua, yaitu bahwa penyelenggaraan ini tentu sangat mendukung penilaian indikator postif dukungan terhadap Kota Ambon, sebagai kota musik dunia, sebagaimana yang telah dicanangkan beberapa waktu lalu,” ujarnya.

Dikatakannya, seiring arus globaliasi dan perkembangan kemajuan ilmu pengetahuan, serta teknologi masa kini, disadari oleh semua, bahwa seni musik Islam yang bernuansa religius seperti seni qasidah, gambus, nasyid dan lain sebagainya, terkesan seolah-olah tertinggal jika dibandingkan dengan genre musik anak muda saat ini.
“Tentu ini menjadi perhatian kita bersama, karena seni musik religius Islami memiliki nilai ganda, yakni sebagai saran syiar dan dakwah, serta berfungsi sebagai sarana untuk melestarikan kebudayaan yang bernuansa islami, sekaligus mentranformasi nilai-nilai positif kepada masyarakat,” jelasnya.

Dengan demikian, kata Assagaff,  Pemprov Maluku mendukung sepenuhnya upaya-upaya pembinaan dan penyelenggaraan ajang seni dan budaya nuansa religius yang dilaksanakan oleh seluruh pemangku kepentingan sebagai pembentukan keperibadian anak bangsa .
“Saya berharap, agar kegiatan-kegiatan seni budaya bernuansa religius ini dapat dilaksanakan secara kontinyu dan berkesinambungan, sebagai wadah bagi seniman Muslim, pelaku dan pengelola seni, agar dapat menuangkan bakat dan kemampuan seninya,” ucapnya. (on).

Tinggalkan Balasan