Eksekusi PN Ambon, Berdasarkan Petunjuk Orang Mati

Eksekusi Rumah di Jl. Rijali Ambon

AMBON, MG.com – Pengadilan Negeri (PN) Ambon lakukan eksekusi lahan di Jl. Rijali Gang Singa Belakang Soya Kecamatan Sirimau Kota Ambon berdasarkan sertifikat yang diterbitkan Badan Pertanahan Nasional (BPN) Kota Ambon tahun 2006.

Pada sertifikat bernomor 271 tersebut tertulis yang menunjukan batas lahan tersebut adalah Adriana Mairuhu.

Padahal Adriana Mairuhu telah meninggal 68 tahun lalu. “Ini berarti penunjukan batas lahan dilakukan oleh orang yang telah meninggal puluhan tahun lalu,” kata Meiske Matahelumual ahli waris pemilik sertifikat 271 yang dikeluarkan tahun 1976.

Lahan tersebut merupakan tanah hibah dari ahli waris Hans Mairuhu, dengan bukti akte hibah nomor 32 tahun 1974, disaksikan Yacob Pedro Nanlohy BA selaku Asisten Wedana Kepala Kecamatan Kotamadya Ambon, dengan luas tanah 88 meter persegi, yang terletak di Jalan Rijali, Gang Singa, Belakang Soya, Kota Ambon.

Sedangkan sertifikat nomor 271 yang dikantongi Enggito Yauris dibuat Yosina Mairuhu pada 10 Juli 2006.

“Josina menjualnya ke Enggito Yauris pada tahun 2010 saat lahan tersebut masih disengketakan,” terangnya.

Menurutnya, pada tahun 2006, Yosina datang di kantor BPN Kota Ambon membuat sertifikat dengan alasan sertifikat lama telah hilang. Yosina diduga membawa bukti palsu srbagai anak angkat ahli waris Hans Mairuhu. Padahal Yosina tidak masuk dalam daftar ahli waris Hans Mairuhu, turunan dari Adriana Mairuhu.

Yosina Mairuhu yang sebenarnya bermarga Nikijuluw ini membuat sertifikat 271 sebagai pengganti sertifikat 271 dengan alasan sertifikat tersebut telah hilang. “Padahal sertifikat itu ada pada kami,” katanya.

Untuk diketahui, Meiske Matahelumual merupakan anak dari Robert Matahelumual atau cucu dari Mariana Muskitta.

Mariana Muskitta adalah saudara kembar dari Maria Muskitta isteri dari Hans Mairuhu yang menikah tanggal 15 Februari 1950. Dari pernikahan tersebut, pasangan ini tidak memiliki anak, punya anak bawaan ataupun mengangkat anak.

Mariana Muskitta pada tahun 1967 menerima surat wasiat yang isinya Mariana berhak menerima seluruh harta peninggalan suaminya. Wasiat tersebut disahkan dihadapan notaris.

“Semua dokumen yang kami sodorkan asli, namun tidak pernah diperhatikan hakim di pengadilan,” sesal Meiske.

Selain itu, ada banyak kejanggalan yang terjadi sejak proses persidangan hingga eksekusi yang dilakukan tanggal 11 Oktober 2018.

Kejanggalan tersebut antarà lain, kata Meiske, surat perintah eksekusi dikeluarkan tanggal 9 Oktober 2018, diterima keluarga Mairuhu tanggal 10 Oktober dan keesokan harinya dilakukan eksekusi. Dan, surat eksekusi dibacakan Juru Sita di lokasi sebelum dilaksanakan eksekusi.

“Kami hanya diberi waktu 23 jam untuk mengosongkan rumah,” kata Meiske dengan isak tangis yang tertahan.

Bahkan, Kapolres Pulau Ambon memerintahkan dua kompi anggota Polres Ambon bersenjata laras panjang untuk mengamankan proses eksekusi. Sementara pihak penggugat mendatangkan 25 preman pasar.

“Yang saya tanyakan, apakah saya ini teroris atau ada bom di rumah kami sehingga Polres Ambon mengerahkan begitu banyak anggota polisi bersenjata lengkap,” kata istri perwira menengah polisi yang bertugas di Polda Maluku itu.

Akibat sikap arogan anggota Polres Ambon ada banyak barang milik keluarga Matahelumual yang hilang, diantaranya 1 koper dokumen lengkap milik adiknya, serta uang tunai Rp 50 juta. Selain itu, sepeda motor milik ayahnya dibuang disamping rumah dan ditemukan warga sekitar.

Untuk itu, dirinya telah melaporkan hal ini ke Polda Maluku dengan laporan polisi nomor TBL/490/X/2018/MALUKU/SPKT dengan terlapor Noce Leasa dan Lois Hendro Waas. (on)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Tinggalkan Balasan