Malra Jadi Sentra Produksi Bawang Merah

Kadistan Malra Pastikan Panen Bawang Merah Terdongkrak

AMBON  MG com – Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Maluku Tenggara,  Felix B Tethol memastikan hasil panen Bawang Merah bisa terdongkrak hingga mencapai 300 ton, dengan asumsi 1 hektar menghasilkan 8 hingga 9 ton.

“Awal, kami prediksikan sekitar 240-an ton, tetapi setelah kita uji terhadap hasil ubinan pada beberapa lahan yang dipanen ternyata 1 hektar produktivitas bisa mencapai 8 sampai 9 ton,” kata Felix saat Tim Pengawalan, Pengamanan Pemerintahan dan Pembangunan Daerah (TP4D) Kejaksaan Tinggi (Kejati) Maluku bersama Dinas Pertanian (Distan) Provinsi Maluku, meninjau proyek Pengembangan Kawasan Bawang Merah yang dibiayai melalui anggaran Kementerian Pertanian, di Kabupaten Maluku Tenggara (Malra), Jumat (24/8/2018).

Lokasi yang ditinjau Distan dan TP4D Kejati Maluku ini, yakni penerima bantuan di tiga desa yakni Kamear, Yafawun dan Watngon, Kecamatan Kei Kecil Timur.

Peninjauan dilakukan untuk memperoleh keterangan dari para petani dan Distan setempat, yang sementara lakukan panen pada sebagian besar lahan.

Felix di lokasi panen mengatakan, puncak produksi sentra bawang merah di ketiga desa, akan dilaksanakan pada akhir Agustus 2018 dan diperkirakan mencapai 200 sampai 240 ton dari luasan lahan 40 hektar.

Berkaitan dengan kualitas bawang hasil panen, Felix akui, bisa bersaing di pasaran. “Untuk hasil panen ini, kita sudah bisa bersaing. Tetapi, selalu saya tegaskan kepada petani, soal kualitas kita tidak harus sama dengan daerah lain, tetapi kita harus bisa lebih unggul dari daerah lain,” tuturnya.

Lebih jauh dikatakan, sudah saatnya, petani di Malra bangkit menjadikan daerah ini sebagai sentra komuditas bawang sejalan dengan program pemerintah saat ini.

“Ke depan jika kita konsen, daerah ini bisa jadi sentra dengan kualitas yang baik melalui perbaikan jadwal tanam, sarana prasarana pendukung serta infrastruktur,” ujarnya optimis.

Untuk menunjang pengembangan kawasan, Felix menyebutkan, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan, misalnya petani masih kekurangan intro dryer yang merupakan alat pengering dan air.

Padahal untuk memperoleh bawang dengan kualitas baik tergantung air.

“Kita di sini mengalami musim panas yang cukup panjang yang mengakibatkan sumur dan kali kering. Kita juga punya sumur di lokasi, tetapi semuanya kering, sehingga kita butuh bak atau embung sebagai wadah penampungan air,” terangnya.

Selain itu, dari aspek budidaya yakni pupuk, dia katakan,  petani menerima pupuk diantaranya KNO3 merah dan KNO3 putih serta obat-obatan atau pestisida.

“Untuk  pupuk dasar seperti NPK diperoleh melalui swadaya,” paparnya.

Meskipun demikian, menurut Felix, petani sudah bisa mandiri dalam rangka perbaikan kesejahteraan melalui bantuan Kementerian Pertanian melalui Dinas Pertanian Provinsi Maluku berupa bantuan bibit bawang merah.

“Petani kita saat ini sudah membuktikan bisa menghasilkan kualitas bawang yang siap bersaing di pasar. Saya berharap ke depan kebijakan provinsi dengan menjadikan Malra sebagai sentra bawang dapat terwujud,” paparnya.

Tingkat partisipasi swadaya petani saat ini, disebut Felix, cukup tinggi dalam penanaman komoditi bawang merah, baik untuk sewa tenaga kerja saat pembukaan lahan, pengolahan lahan, sewa untuk penanaman, sampai pada sewa tenaga kerja dalam rangka panen.

Untuk itu, ke depan dia harapkan adanya perluasan lahan yang diperuntukan bagi pengembangan bawang merah di Malra.

“Diperkirakan saat ini, lahan yang tersedia sekitar 300 hektar. Tapi kalau toh kita jadi sentra, kita bisa targetkan 700 hektar,” imbuhnya.

Pihaknya juga menargetkan, di tahun 2019 mendatang, akan meningkatkan Indeks Penanaman (IP) melalui perbaikan jadwal tanam.

“Kita juga targetkan, kalau di Jawa, IP nya 200 yaitu dua kali tanam, maka kita targetnya tiga kali yang musim tanamnya dimulai pada bulan April,” ucapnya.

Untuk pemasaran hasil petani, pihaknya mempercayakan ketangguhan petani dalam bernegosiasi di pasar. Namun tetap mendampingi petani mencarikan pasaran. (Humas)

Tinggalkan Balasan