Lawatan Fahri Hamzah di Maluku

Fahri : Kinerja Aleg Asal Maluku Tak Efektif

AMBON, MenaraGlobal.com-Fahri Hamzah Wakil Ketua DPR RI berjanji akan memfasilitasi  Pemerintah dan DPRD Maluku untuk bertemu di Jakarta dan secara bersama mengingatkan pemerintah pusat, serta menagih janji Pempus ke masyarakat Maluku.

“Saya sendiri baru dengar masalah-masalah Maluku di ruangan ini dari Wagub dan Melkias Frans, di DPR RI saya tidak pernah mendengarnya,” katanya, saat dialog Kebangsaan dengan tema Mendorong Kontribusi Daerah, Wujudkan Indonesia Bersatu Dalam Kebhinekaan di Swissbell Hotel Ambon, Rabu (18/7/2018).

Pernyataan Fahri sekaligus mengisyaratkan sikap ketidakpedulian wakil rakyat asal Maluku di Senayan.

Pernyataan Fahri ini mengundang hadirin yang didominasi generasi muda bertepuk tangan dan tertawa.

Fahri lalu merujuk harapan masyarakat Maluku yang disampaikan oleh Wakil Gubernur Maluku Zeth Sahuburua dan Ketua Komisi A DPRD Maluku Melkias Frans tentang minimnya perhatian pemerintah pusat terhadap masyarakat di Maluku.

“Macetnya pembahasan RUU Provinsi Kepulauan dan status Maluku sebagai Lumbung Ikan Nasional, disebabkan kemacetan di pemerintah pusat, tetapi juga akibat tidak efektifnya keberadaan wakil rakyat asal Provinsi Maluku,” tegasnya.

Fahri kembali membuat pernyataan mengejutkan lantaran tidak lagi maju pada pencalonan calon legislatif 2019.

Fahri Hamzah mengakui dirinya siap berada di posisi masyarakat sipil maupun eksekutif.

Sebagai masyarakat sipil, dia akan terus ribut memperjuangkan kepentingan rakyat. Sebaliknya bila di eksekutif, dirinya akan lebih banyak diam dan melakukan tugas untuk menyejahterakan rakyat.

“Saya tidak lagi akan berada di legislatif, tetapi saya akan tetap ribut demi membela kepentingan rakyat,” katanya.

Tampil flamboyan dengan kemeja batik lengan panjang, celana serta peci hitam, pria yang lahir di Utan, Sumbawa, NTB, pada 10 November 1971 itu mengaku banyak partai politik menawarinya untuk bergabung, setelah dirinya tidak lagi diakui sebagai bagian dari PKS.

“Berada di legislatif selama 17 tahun membuat saya malas untuk kembali berjuang di lembaga tinggi negara itu, lantaran ada dua hal besar yang berlangsung terus menerus yang tidak produktif maupun efektif bagi kesejahteraan rakyat,” katanya.

Ada dua kelompok besar tambahnya, yang satu ribut soal yang tidak jelas, yang satunya lagi sibuk dagang sapi. (on)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Tinggalkan Balasan