Museum Siwalima Butuh Tambahan Anggaran

AMBON, MenaraGlobal.com-Museum Siwalima sebagai tempat menyimpanan atau mengamankan benda bersejarah di Maluku membutuhkan tambahan anggaran.

Sebab Museum Siwalima tahun 2018 hanya dialokasikan dana sebesar Rp 900 juta untuk merawat, menata dan mengelola data serta operasional lainnya.

Padahal ada 5.347 jenis benda koleksi yang butuh penanganan serta penataan.

Misalnya, untuk mengelola data koleksi saja diperlukan biaya lebih dari Rp 5 juta per tahun, biaya konservasi dan pengadaan bahan kimia juga membutuhkan anggaran lebih dari Rp 5 juta.

“Memang anggaran tersebut terbilang kecil namun kita harus menyesuaikan dengan keuangan daerah, kami berupaya menggunakan dana tersebut secara maksimal dan efisien,” kata Kepala UPT Museum Siwalima Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Maluku, Dra. Jeanne Saija kepada MenaraGlobal.com diruang kerjanya, Rabu (24/01/2018).

Disinggung soal pengadaan benda koleksi, Saija menegaskan pihaknya tidak bisa menambah benda koleksi lantaran tidak ada anggaran untuk itu.

Diakui Saija, awalnya sewaktu pengelolaan Museum Siwalima berada langsung dibawa Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, ada anggaran untuk pengadaan benda koleksi.

“Tapi sejak pengelolaan Museum Siwalima dialihkan ke daerah anggaran tersebut tidak ada lagi, sehingga kami hanya mengelola 5.347 benda koleksi tanpa bisa menambahkan benda koleksi lainnya selain ada pihak yang mau menyumbangkan benda koleksi secara cuma-cuma,” terangnya.

Saat ini pengelolaan Museum Siwalima hanya terfokus pada pengelolaan data, perawatan dan menyajinya dalam ruang pameran.

Menurutnya, untuk memberikan penyegaran pada pengunjung Museum Siwalima, pihaknya mengambil langkah mengganti benda koleksi di ruang pameran dengan benda koleksi yang disimpan dalam ruang penyimpanan.

“Kami akhirnya mengambil langkah mengganti benda koleksi dalam ruang pameran dengan benda yang ada di ruang penyimpanan jika benda tersebut memiliki kisah atau cerita sejarah dan budaya. Langkah ini ditempuh agar pengunjung tidak merasa bosan,” jelas Saija yang telah memulai kariernya sebagai ASN di Museum Siwalima sejak awal 1991.

Saija menjelaskan, Museum Siwalima saat ini memiliki tiga ruang pameran, yakni ruang pameran Sejarah dan Budaya, ruang pameran koleksi kelautan dan ruang pameran edukasi.

Menurut Saija, tahun 2015 atap gedung ruang pameran Sejarah dan Budaya rusak dan diganti.

“Sayangnya hingga kini belum ada kucuran anggaran untuk penataan benda koleksi Sejarah dan Budaya,” katanya.

Menyiasati hal itu, benda koleksi di ruang pameran tersebut dipindahkan ke ruang pameran Sasadu.

Langkah ini dilakukan agar pengunjung Museum Siwalima bisa menyaksikan benda koleksi tersebut. “Sayangkan, jika semuanya ditutup, karena wisatawan manca Negara lebih tertarik mengunjungi ruang pameran Sejarah dan Budaya,” katanya lagi.

Untuk ruang pameran koleksi kelautan, kata Saija, pihaknya memperoleh bantuan renovasi gedung pada tahun 2014 khusus untuk atap sebesar Rp 1 miliar.

Kemudian pada tahun 2015 ada bantuan sebesar Rp 1,5 miliar untuk penataan termasuk pemasangan fitring serta tahun 2016 juga dikucurkan dana sebesar Rp 750 juta untuk renovasi perpustakaan dan insentif kelompok edukasi di ruang pameran.

“Seluruh dana bersumber dari Kementerian,” terangnya.

Sayangnya, pada tahun 2017 Museum Siwalima tidak menerima kucuran anggaran walaupun pengelola telah berjuang di Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

“Penjelasan yang kami terima bahwa harus ada dana sharing sebesar 50 persen dari pemerintah dan 50 persen pemerintah pusat,” jelasnya.

Lantaran tidak ada kucuran dana tersebut dari Pemda Maluku akhirnya Pemerintah Puysat juga urung memberikan bantuan dana.

“Makanya kita tidak menerima bantuan dana dari kementerian,” katanya lagi.

Saija berharap ada kucuran dana walaupun kecil untuk penataan benda koleksi sejarah dan budaya. Sebab minat pengunjung perpustakaan lebih banyak ke bagian tersebut.

Selain itu, panorama Tanjung Alang yang terlihat dari ruang pameran Sejarah dan Budaya memukau pengunjung khususnya wisatawan manca Negara. (DW)

Tinggalkan Balasan