Ambon,MG.com— Upaya Pemerintah Provinsi Maluku bersama Bank Indonesia dalam menekan inflasi pangan mulai menunjukkan hasil. Melalui panen perdana cabai digital farming dan konvensional di Balai Benih Induk (BBI) Hortikultura Dusun Telaga Kodok, Kecamatan Leihitu, produksi cabai meningkat hingga 34 persen, membantu menstabilkan pasokan dan harga di pasar lokal.
Kegiatan ini merupakan tindak lanjut dari Gerakan Tanam Serempak Cabai yang dicanangkan Gubernur Maluku, Hendrik Lewerissa, pada 13 Agustus 2025 lalu. Kolaborasi antara Dinas Pertanian Provinsi Maluku, Bank Indonesia Perwakilan Maluku, dan Komunitas Smart Farming Maluku menjadi tonggak penting transformasi pertanian berbasis teknologi di daerah ini.
Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Maluku, Mohamad Latif, menegaskan bahwa panen kali ini merupakan bagian dari Gerakan Nasional Pengendalian Inflasi Pangan (GNPIP).
> “Panen ini diharapkan memperkuat pasokan cabai di pasar lokal, menekan harga, dan membantu menjaga kestabilan ekonomi masyarakat. Ini adalah komitmen kami dalam mendukung ketahanan pangan berkelanjutan di Maluku,” ujar Latif.
Ia menambahkan, pada Oktober 2025 lalu, inflasi volatile food di Maluku mencapai 5,12 persen, dengan harga cabai rawit sempat menyentuh Rp100 ribu per kilogram. Melalui hasil panen kali ini, Maluku diharapkan dapat keluar dari kategori zona merah inflasi pangan dan memperbaiki daya beli masyarakat.
Kepala Dinas Pertanian Provinsi Maluku, Ilham Tauda, menjelaskan bahwa keberhasilan panen merupakan hasil nyata dari kerja kolaboratif dan penerapan digital farming.
> “Gerakan tanam serempak yang dicanangkan Bapak Gubernur kini membuahkan hasil. Ini bukti bahwa teknologi mampu meningkatkan produktivitas dan menekan risiko gagal panen,” kata Ilham.
Menurut data Komunitas Smart Farming Maluku, hasil panen cabai dengan sistem digital farming mencapai 2,1 ton dari lahan 0,4 hektare, naik 34 persen dibanding sistem konvensional yang hanya menghasilkan 1,6 ton. Pada komoditas bawang merah, produktivitas bahkan melonjak 51 persen, dari 1,4 ton menjadi 3,2 ton per 0,4 hektare.
Ketua Komunitas Smart Farming Maluku, Rasyid, menyebut teknologi pertanian digital memungkinkan petani mengatur kebutuhan tanaman secara presisi.
> “Dengan sensor dan data, kami bisa tahu kapan tanah butuh air, kapan perlu pupuk. Semua terukur, dan hasilnya jauh lebih baik,” ungkapnya.
Panen perdana ini menandai langkah maju Provinsi Maluku dalam mewujudkan pertanian modern yang tangguh dan efisien. Acara diakhiri dengan pembagian doorprize alat penyemprot elektrik kepada kelompok tani sebagai bentuk apresiasi terhadap inovasi dan kerja keras petani lokal.










