Ambon,MG.com – Penutupan operasional PT Spice Island Maluku (SIM), perusahaan pengelola pisang abaka di Kabupaten Seram Bagian Barat (SBB) oleh Bupati Asri Arman, menuai kritik dari anggota Komisi I DPRD Provinsi Maluku, dapil SBB, Ismail Marasabessy.
Kepada wartawan di Gedung DPRD Maluku, Karang Panjang Ambon, Senin (21/7/2025), Ismail menyatakan penutupan tersebut berdampak besar terhadap perekonomian lokal.
Ratusan pekerja yang mayoritas anak daerah SBB, kini terpaksa dirumahkan karena aktivitas perusahaan terhenti total.
“Keputusan Bupati saya akui baik karena mendengar aspirasi masyarakat di tiga dusun, yaitu Negeri Kawa dan Negeri Eti. Tapi di sisi lain, Bupati juga wajib mempertimbangkan nasib para pekerja lokal yang selama ini menggantungkan hidupnya dari perusahaan itu,” kata Ismail.
Menurutnya, PT SIM selama beroperasi telah memenuhi berbagai kewajiban administratif dan finansial sebagai perusahaan resmi.
Selain memiliki izin operasional, perusahaan juga rutin membayar berbagai pajak termasuk pajak galian C, yang menjadi salah satu sumber Pendapatan Asli Daerah (PAD) SBB.
Kontribusi perusahaan, khususnya dari hasil pengelolaan pisang abaka, disebut signifikan terhadap kas daerah.
“Kalau aktivitas dihentikan, otomatis ratusan pekerja dirumahkan. PAD dari perusahaan ini pun berhenti. Ini jelas merugikan daerah, apalagi PAD SBB relatif kecil. Keberadaan perusahaan-perusahaan seperti PT SIM sangat penting untuk menopang pendapatan daerah,” tegas Ismail.
Politisi Partai Nasdem ini menilai, meski aspirasi warga harus dihormati, pemerintah daerah tidak boleh serta merta menutup perusahaan tanpa solusi.
“Kalau memang ada masalah, duduk bersama dan cari jalan keluar. Bupati jangan hanya menghentikan operasional, tapi juga harus memastikan perusahaan tetap bisa beroperasi tanpa merugikan masyarakat. Harus ada win-win solution,” ujarnya.
Ismail menambahkan, tanpa kehadiran perusahaan yang menyumbang PAD, SBB akan semakin sulit membiayai pembangunan dan layanan publik.
“Tanpa perusahaan, saya mau katakan, SBB tidak bisa berharap banyak. PAD SBB kecil, dan perusahaan-perusahaan ini justru menjadi penopang utama,” pungkasnya. (*)










