Cari Ikan, Nelayan Lokal Masih Gunakan Bom dan Potasium

  • Whatsapp
banner 468x60

AMBON, MG.com – Ternyata nelayan lokal yang mencari ikan di perairan Maluku masih banyak yang gunakan bom dan potasium.
Dan ini ditemukan TNI AL dalam patrolinya di wilayah Seram Bagian Barat (SBB), Seram Bagian Timur (SBT) dan kawasan perairan Buru dan Buru Selatan.
Demikian dikemukakan, Komandan Pangkalan Utama TNI AL (Danlantamal) IX Laksamana Pertama TNI Eko Jokowiyono, S.E., M.Si kepadavwsrtawan di ruang kerjanya, Kamis (07/01/2021).
“Yang didapati adalah nelayan lokal gunakan bom. Banyak di wilayah kita khususnya di SBB, SBT, Buru dan Buru Selatan khususnya di wilayah kerja Lantamal IX hampir semuanya gunakan bom,” katanya.

Eko menegaskan, persoalan ini menjadi tanggungjawab bersama bukan hanya Lantamal IX saja.
“Karena dengan menggunakan bom ikan mati, anak ikan juga mati dan terumbu karang juga hancur. Untuk nilai ekonominya tidak mungkin ikan yang ditangkap dengan bom bisa dijual ke luar negeri karena pasti tidak laku,” katanya.

Eko menegaskan, persoalan ini menjadi pekerjaan rumah (PR) bagi seluruh pemangku kebijakan di Maluku untuk mensosialisasikan bahaya bom jika digunakan menangkap ikan.

Sedangkan untuk perairan di wilayah perbatasan dengan Timor Leste, ada kejahatan perikanan lintas negara.
“Jadi ikan dari Maluku dibawa ke Timor Leste dengan alasan hubungan kekeluargaan. Masyarakat kita tidak melihat itu negara lain tapi berdasarkan kekeluargaan. Padahal kegiatan antar negara ini jika dilakukan dengan benar maka akan kena pajak. Kadang masyarakat kita tidak paham,” katanya.

Selain itu, di kawasan tersebut juga ditemukan penangkapan ikan oleh nelayan dengan menggunakan komoresor.
“Jadi nelayan menyelam menggunakan kompresor, padahal ini berbahaya bagi pengguna, karena tidak disadari. Saat menyelam, kompresor yang dipakai tidak punya filter atau alat yang membatasi udara masuk paru-paru dan tidak tahu batasannya,” katanya dengan nada kuatir.

Selain itu, ada nelayan yang gunakan potasium yang menyebabkan terumbu karang mati dan ikan akan berpindah lantaran tempat sembunyiannya tidak ada lagi.
“Soal jumlah yang menggunakan racun, bom dan sebagainya belum bisa diketahui secara pasti,” katanya.

Perwira satu bintang ini menegaskan pihaknya telah lakukan pemetaan.
“Di darat, kami punya yang disebut Asisten Potensi Maritim yang tugasnya lakukan sosialisasi ke masyarakat agar tidak gunakan bom, racun maupun kompresor karena berbahaya bagi diri sendiri dan lingkungan laut khususnya lingkungan laut,” katanya.

Danlantamal juga mengingatkan bahwa banyak bagan ikan (sero ikan) saat malam hari tidak menggunakan ada lampu, dan inj sangat berbahaya bagi keselamatan pelayaran.
Dan ini tugas Aspotmar mensosialisasikan kepada masyarakat nelayan dan kami akan dorong hal itu.
“Kalaupun nantinya, pelanggaran ini tetap dilakukan dan tidak dipatuhi maka kapal patroli yang akan menangkap nelayan untuk disosialisasikan,” tandasnya. (Eln)

banner 300x250

Pos terkait

banner 468x60