Gubernur Apresiasi FGD Unidar

AMBON, MG.com – Gubernur Maluku Ir. Said Assagaff mengapresiasi dan berterima kasih kepada Universitas Darussalam selaku penyelenggara International Focus Group Discussion (FGD) Darussalam Ambon University Southern Cross University Australia yang diselenggarakan di aula Pelabuhan Perikanan Nusantara, Tantui-Ambon, Kamis (13/12/2018).
“Kehadiran FGD ini, menurut saya, merupakan bentuk nyata dari kesungguhan perhatian dan kepedulian stakeholders pariwisata di Maluku terhadap proses pembangunan di Maluku, terutama dalam peningkatan dan pengembangan pembangunan sektor pariwisata,” kata Assagaff dalam sambutan tertulisnya yang dibacakan Kepala Dinas Kominfo Provinsi Maluku, dr. Frona Koedoeboen saat membuka kegiatan tersebut.
Menurutnya, Maluku kerap diimajinasikan sebagai “patahan” surga yang jatuh ke bumi.
“Mengemukanya imajinasi demikian jelas bukan dengan tanpa alasan yang mendukung dan dapat dipertanggungjawabkan. Apa yang bisa kita baca dari imajinasi tersebut adalah karena panorama, Maluku dengan sumber daya rempah-rempahnya (cengkeh, pala, lada, kayu cendana dan gaharu, misalnya) pernah menjadi magnet yang menyebabkan bangsa-bangsa dari daratan Timur Tengah dan Eropa melakukan perjalanan pelayaran jauh dan penuh resiko untuk mencapai Maluku,” jelasnya lagi.
Tercatat, pada tahun 1533, Sir Hugh
Wlilloughby dan awak kapalnya terjebak dan membeku di Kutub Utara karena mencoba keberuntungan dari mencari jalur rempah-rempah menuju wilayah Nusantara.
Kedua, daerah Maluku memiliki wilayah dengan kerakteristik kepulauan dengan pesona keindahan yang sangat eksotik dan menyimpan kekayaan sumber daya Iaut yang luar biasa.
Pesona wilayah kepulauan Maluku tidak saja memanjakan pada keindahan pantai bertatakan pepohonan kelapa yang tak henti menyapa dan hamparan pasir putih halus yang membentang sejauh mata memandang (seperti pantai Natsepa, pantai Ngurbloat, dan pantai Ngurtafur misalnya). Akan tetapi, wilayah kepulauan Maluku juga memanjakan mata dengan keindahan alam bawa Iaut yang menakjubkan (seperti Iaut Banda dan Iaut raja ampat misalnya) berikut khazanah aneka kuliner bahari yang melimpah dan tak habis-habisnya.
“Dalam konteks itulah, saya berpandangan, bahwa forum FGD yang mengambil fokus percakapan “Ekowisata Berkelanjutan dan Wisata Rempah Maluku” ini, merupakan forum yang representatif dan memiliki otoritatif untuk mengeksplor lebih jauh dan
lebih dalam kedua potensi pariwisata tersebut,” katanya pula.
Assagaff berharap, melalui forum yang sangat strategis ini nantinya bisa melahirkan tiga hal penting yakni, menjadi momentum penguatan komitmen untuk pemantapan dan pengembangan paradigma pembangunan sektor pariwisata yang sensiflt lingkungan secara all out (sustainable paradigm).
“Kita berharap, sektor pariwisata bisa menjadi model dalam mendorong tata kelola pembangunan yang berkelanjutan di Maluku,” kata Assagaff.
Selain itu, dirinya berharap, FGD ini mampu merumuskan pokok-pokok pikiran dan kerangka acuan strategis pengembangan ekowisata dan wisata rempah Maluku.
“Ini sangat kita butuhkan agar basis, fokus dan orientasi pengembangan usaha-usaha ekowisata dan wisata rempah yang dilakukan tidak saja jelas, tapi juga terukur bekerja on track dan bertarget,” katanya.
FGD ini juga diharapkan mampu membangun networking atau jejaringan yang concern pada pengembangan usaha-usaha ekowisata dan wisata rempah. “Dengan adanya networking kita bisa bekerjasama, berbagi peran dan tanggungjawab, baik secara proporsional maupun profesional. Sudah barang tentu, networking yang saya maksudkan tidak saja dikembangkan di wilayah Maluku, tapi juga ke luar Maluku, menjaring potensi dan sumber daya pariwisata strategis yang dapat memberi dampak signifakan terhadap proses bertumbuh dan berkembangnya tata kelola sektor pariwisata di satu sisi, dan peningkatan pendapatan daerah sektor pariwisata,” terangnya. (on)

Tinggalkan Balasan