Dibalik  Cerita Sukses  Pesparani

George Akui Dituntun Roh Kudus

AMBON, MG.com – Pesta Paduan Suara Gerejani (Pesparani) Katolik Nasional I di Ambon-Maluku telah usai. Namun cerita sukses dibalik perhelatan akbar umat Katolik tidak berhenti sampai di situ. Salah satunya cerita pembuat piala bergilir Presiden RI dan piala tetap yang sangat ikonik.

“Sebetulnya saya tidak menyangka momen ini datang ke saya karena saya tinggal di Bandung, apalagi waktunya hanya 14 hari. Dan hari ke 12 pak Ardo ke Bandung dan saya melihat ini urgensi,” kata William George Timoransan mengawali kisahnya kepada wartawan, Jumat (26/10/2018).

Pria berkepala plontos ini bercerita,  sebenarnya waktu yang dibutuhkan untuk pembuatan piala dengan dessin seperti ini membutuhkan waktu 3 bulan untuk satu piala.

“Namun saya memberanikan diri menerima tantangan ini dan langsung membuat (mengerjakannya),” katanya.

Sebagai orang Kristen, George merasa dirinya dituntun Roh Kudus.

“Saya sepertinya mendengar suara buat saja pasti jadi. Seperti ada Roh Kudus yang ngomong ke saya, pasti jadi,” katanya. Setelah mematangkan desain, dan di setujui akhirnya pada H-6, pria kelahiran Kota Ambon itu berhasil membuat piala bergilir dan piala tetap.

“Sebetulnya ini sesuatu diluar kehendak saya karena sebenarnya untuk pekerjaan seperti ini memakan waktu 3 bulan untuk satu. Tapi ini bikin dua memakan waktu 12 hari.

Ini energinya dari mana bahkan sampai tadi malam jam 10 saya masih kerjakan di bandara. Karena saya pikir tak ada waktu dan momen,” ceritanya. George menjelaskan, khusus untuk konteksnya, sengaja tidak mengambil overlaak Garuda Pancasila seperti digambar tapi sedikit kontemporer.

Sebab, bicara soal generasi ke generasi maknanya terus berkembang. Generasi dulu sangat  overlaak dengan lambang tapi sekarang yang penting energinya.

“Tapi saya tidak mungkin mengaburkan Yesus, dan tidak mungkin menghilangkan Yesus, sebab Yesus adalah center dari semuanya,” tegas pria yang menghabiskan masa kecilnya di Negeri Hative Kecil Kota Ambon ini.

George menjelaskan, patung Yesus waktu dibuat pertama kali agak pendek. Untuk itu dirinya menambah bongkahan batu dan salib Yesus ditancap diatas bongkahan tersebut. “Harus ada penjelasan tentang kematian Yesus di kayu salib di Golgota dan bagaimanapun juga ada nyanyian malaikat,” katanya.

George menegaskan ulang bahwa lambang nyanyiannya dibuat lingkaran serkelnya Yesus, nada center Yesus. “Apapun nadanya Yesus tetap center, dan Garuda Pancasila ada dibelakang dan saya sengaja bikin bolong-bolong, karena kalau lihat dari belakang agak lebih keren dan kedua ini di Ambon dan Indonesia Negera kepulauan airnya banyak dan sayapnya dibuat sepetti es mengalir itu secara bebas,” jelasnya.

Kalau di patung silver (piala tetap) George tidak banyak bicara hanya memadukan logo Pesparani dari Maluku untuk Indonesia lalu tangga nadanya tetap ada.

Lokasinya di Ambon yang ditandai dengan keberadaan kerang.  “Tapi serkelnya tetap Yesus dan malaikat tetap bernyanyi,” katanya. (on)

Tinggalkan Balasan