Eliminasi Campak-Rubela Harus Didukung

AMBON, MG.com – Warga Kota Ambon di kawassn tertentu masih menolak imunisasi campak-rubela. Akibatnya, Dinas Kesehatan Kota Ambon  kewalahan menghadapinya.

Pendaratan vaksin ini lantaran ada fatwah Majelis Ulama Indonesia (MUI), yang awalnya melarang pendaratan vsksin ini, namun hal ini terbantahkan saat dikeluarkan fatwah terbaru MUI.

Sayangnya  pernyataan MUI terbaru belum mampu menepis keraguan masyarakat akibat kurangnya pemahaman orang tua atas jenis vaksin yang satu ini.

Guna meningkatkan pemahaman masyarakat, maka sosialisasi intens terkait penularan virus ini harus digenjot. Sebab, virus ini dapat menular lewat saluran nafas, dan air liur.

Untuk itu dibutuhkan, antisipasi kekebalan kelompok untuk memutuskan mata rantai penyebaran virus dimaksud.

Kepala Bidang (Kabid) P2P Dinas Kesehatan Kota Ambon, dr. Sioly Soempiet, kepada wartawan di Ambon, Rabu (26/9/2018) menjelaskan upaya memutuskan mata rantai panyakit campak dan rubela di Kota Ambon, Dinas Kesehatan tetap berupaya untuk pencapaian target 95 persen sebagai standar menciptakan kekebalan kelompok.

“Sampai tanggal 25 September 2018 , baru 57,88 persen anak yang peroleh imunisasi, sementara untuk memutuskan mata rantai virus ini adalah 95 persen. Tinggal 42 persen bukan sutau hal yang tidak mungkin tetapi memerlukan upaya seluruh kekuatan pembangunan,” katanya. Karena itu, pihakanya tetap berkoordinasi dengan pemerintah kecamatan, desa, negeri hingga RT/RW.

Demi mencapai tujuan eliminasi campak rubella tambah Soempiet, Dinas Kesehatan Kota Ambon juga membangun kerjasama dengan LSM dan tokoh agama, khususnya MUI Kota Ambon.(on)

Tinggalkan Balasan