Stabil, Pempus Buka Blokir Internet di Papua dan Papua Barat

AMBON, MG.com – Pemerintah Pusat melalui Kementerian Kominfo beberapa hari lalu membuka blokir akses internet secara keseluruhan di wilayah Papua dan Papua Barat serta 13 kabupaten lainnya.
“Saat ini semua aksi blokir sudah terbuka baik melalui jalur Telkom maupun jalur operator. Seluruh tokoh agama atau tokoh masyarakat dihimbau untuk lakukan seruan damai dengan memanfaatkan media,” kata Kepala Dinas Kominfo Provinsi Papua Barat, Frans Istia kepada wartawan di Ambon, Kamis (12/09/2019).

Istia menjelaskan, sejak akhir Agustus, Pemerintah Pusat melalui lintas kementerian yakni Kementerian Kominfo, Menko Polhukam, Menko Kemaritiman, Mabes Polri, BIN dan semua yang terkait dengan masalah stabilitas keamanan menerapkan kebijakan untuk menstabilkan kondisi keamanan di kawasan Papua Barat.

Menurutnya, setelah terjadi rusuh di Papua Barat, terjadi pemblokiran jaringan komunikasi.
Faktor utama yang menjadi pertimbangan kebijakan tersebut diambil Pemerintah Pusat adalah mencegah penyebaran berita hoax.
“Penyebaran berita hoax pasti akan memperkeruh suasana konflik di Papua Barat dan Papua sehingga dilakukan pemblokiran internet di wilayah Papua dan Papua Barat sejak tanggal 19 Agustus pasca kerusuhan itu,” jelas Istia.

Pemblokiran tersebut tambah Istia, dilakukan secara bertahap dengan cara menurunkan akses internet.
“Tapi, pada tanggal 21 Agustus, pemerintah lakukan pemblokiran penuh baik melalui jalur Telkom maupun melalui jalur operator. Pasca kerusuhan dan mulai kondusif jalur Telkom di buka, juga WiFi melalui Indihome dibuka,” terangnya.

Setelah itu, secara bertahap 10 Kabupaten untuk wilayah Papua Barat dibuka, diikuti beberapa daerah lainnya.
“Tetapi daerah-daerah yang dianggap cukup rawan penyebaran berita hoax masih tetap di blokir yakni Kabupaten Manokwari, Kota Sorong dan Kabupaten Sorong masih diblokir, hingga gubernur dan semua pemangku kepentingan di Papua Barat melakukan aksi damai besar-besaran didukung tokoh agama, tokoh masyarakat, tokoh pemuda dan sebagainya menuntut dibukanya akses internet,” katanya. (On)

Tinggalkan Balasan