Polisi Didesak Tetapkan Tersangka Kasus Penganiayaan Pattiasina

AMBON, MG.com – Kepolisian Sektor (Polsek) Nusaniwe di Benteng diminta segera menetapkan tersangka dalam kasus penganiayaan bersama yang dilakukan enam orang pelaku berinisial JL,PM,TR,AM,R, dan YA, Warga Gunung Nona, Kecamatan Nusaniwe, Kota Ambon terhadap korban Donny Korneles Josepus Pattiasina(42), warga Benteng,jalan Gudang Arang, RT 001 RW 005 Kecamatan Nusaniwe, Kota Ambon yang dilakukan pada 4 Januari 2019 kemarin.

Kuasa Hukum korban, Rony Samloy SH kepada awak media, Kamis (16/01/2019) di Ambon meminta agar Polsek Nusaniwe di Benteng segera menetapkan tersangka dalam perkara tersebut.
Pasalnya sesuai laporan korban yang teregistrasi dalam laporan Polisi No LP.05/1/2019/Mal/Res.Ambon/Sek Nusaniwe tanggal 4 Januari 2019, dengan terlapor Tani Ratuanik dan rekan-rekannya.
Sebab, sejak dilaporkan hingga saat ini terhitung dua minggu lebih tapi laporan ini belum ditindaklanjuti pihak Kepolisian.

Menurut Rony, perkara ini awalnya menyangkut batas tanah kepemilikan lahan Pemerintah Amahusu dengan Pemerintah Uremessing, yang berada persis di depan Pekuburan Islam, masuk lorong Pura TVRI Gunung Nona.
Lahan tersebut awalnya telah dibeli Melki Frans Ketua komisi A DPRD Maluku dari Pemerintah Urimessing.

Tapi pemerintah Amahusu mengklaim lahan itu menjadi milik mereka akhirnya terjadi saling mengklaim.

Kemudian secara diam-diam Pemerintah Amahusu membangun fondasi bangunan Puskesmas diatas lahan tersebut tanpa sepengetahuan Melki Frans.

Merasa dikorbankan, Melki Frans meminta korban menemui para pelaku untuk menghentikan pembangunan kantor tersebut lalu melalukan mediasi di Polsek Benteng.
Hasilnya, pembangunan harus dihentikan atau tidak boleh dilanjutkan karena masih dalam proses sengketa.

Mirisnya lanjut Rony Pemerintah Amahusu tetap bersikeras membangun. Dan korban mendatangi dan menegur para pelaku agar tidak melanjutkan proses pembangunan tersebut.

“Korban datang menegur mereka (pelaku) namun mereka tidak mau mendengar, karena kesal korban pukul fondasi. Nah, pas korban sedang memukul fondasi para pelaku langsung menyerang korban membabi buta,” jelas Samloy.

Korban tambahnya, dipukul menggunakan alat berupa batu, dan kayu rep. Akibatnya korban harus dirawat dengan 21 jahitan di kepala dan luka memar pada belakang kepala, tangan, dan sekujur tubuh sakit.
“Ada hasil visum dokter RSUD Haulussy Kudamati,” jelasnya.

Untuk itu lanjut Rony, selaku kuasa hukum korban, dirinya meminta pihak Kepolisian Sektor Nusaniwe Pos Benteng segera tetapkan para pelaku sebagai tersangka.
“Jika Kapolsek tidak merespon tuntutan ini maka kami meminta Kapolda Maluku segera mengevaluasi kinerja yang bersangkutan bila perlu copot dia dari jabatannya,” tegas mantan jurnalis itu.

Rony berharap Kapolsek tidak memainkan skenario memperlambat pengusutan perkara ini serta jangan ada upaya membebaskan para pelaku.

“Selaku penegak hukum biarkan saja hukum jadi panglima di negara ini karena sesuai laporan para pelaku disangkakan dengan pasal 170 KUHP tentang kekerasan bersama dengan hukuman diatas lima tahun,” tegas Rony.(an).

Tinggalkan Balasan