Tim Peningkatan Ekspor Dilantik

Eksport Maluku Merosot AMBON.MG.com – Merosotnya kinerja ekspor Maluku selama beberapa tahun terakhir telah berdampak pada penurunan daya saing regional, meskipun pelbagai kebijakan untuk mendorong peningkatan daya saing sudah dilakukan pemerintah. “Hal yang sama juga telah dilakukan pelaku usaha melalui usaha-usaha efisiensi dan peningkatan produktivitas,” kata Gubernur Maluku, Said Assagaff, saat melantik Tim Peningkatan Ekspor Provinsi Maluku sekaligus membuka kegiatan Gathering Export di lantai 7 Kantor Gubernur Maluku, Kamis (8/11/20). Namun tambahnya, upaya-upaya tersebut belum membawa hasil yang memuaskan. Menurut Assagaff, permasalahan mendasar yang menjadi faktor merosot atau berkembangnya ekspor dan daya saing di Maluku, antara lain, pertama, masalah tantangan geografis Maluku. “Luasnya kepulauan Maluku secara otomatis membuat konektivitas dan aksesibilitas pada sentra-sentra produksi menjadi berat dan mahal,” jelasnya. Faktor lain, kata Assagaff, terkait dengan geografis Maluku yang berciri kepulauan serta terbatasnya anggaran mengakibatkan ketersediaan infrastruktur pendukung peningkatan daya saing dan ekspor di daerah ini masih minim. “Ketiga, upaya deregulasi beberapa peraturan di bidang transportasi masih terkendala karena belum sinkronnya peraturan secara horinsontal,” jelas Assagaff. Untuk itu, pihaknya membentuk Tim Peningkatan Ekspor Maluku yang kepengurusanya baru dilantik. Tim tersebut diharapkan mampu menjawab tantangan dan hambatan yang dihadapi para pelaku ekspor. “Tim ini diharapkan mampu membuat perubahan terutama memberikan kemudahan bagi dunia usaha ekspor dari Maluku, sehingga keberadaan dan manfaatnya dirasakan masyarakat terutam pelaku ekspor,” ungkap Assagaff. Selain itu, proses pengangkutan komoditi atau produk ekspor dari sentra produksi menuju pelabuhan masih terkendala teknis di lapangan. “Belum optimalnya pengembangan dan pemanfaatan teknologi informasi untuk mendukung layanan ekspor juga masih dikeluhkan pelaku ekspor,” katanya. Selain itu, perlunya peningkatan kapasitas masyarakat yang ada pada sentra-sentra produksi serta pelaku-pelaku usaha agar miliki pengetahuan, keterampilan atau kreativitas guna peningkatan hasil produksi yang berkualitas. Berdasarkan hasil diskusi dan survei lapangan oleh instansi terkait bersama beberapa pelaku ekspor, permasalahan pokok yang dihadapi para pelaku ekspor diantaranya, masalah biaya (cost), waktu (time) dan layanan (services). “Ketidaksinkronan regulasi atau peraturan (pusat-daerah dan lintas sektor), keamanan transportasi, dan proses dokumentasi barang yang belum berbasis IT, menciptakan biaya tinggi dalam proses pengiriman barang,” terangnya. Sedangkan birokrasi ekspor, keterbatasan armada kapal dan belum sinkronnya jadwal pengangkutan, serta akses menuju pelabuhan dari sisi hinterland, dalam penilaiannya menjadi penyebab tidak efisiennya proses pengangkutan komoditi ekspor dan memperpanjang waktu pengiriman barang. Juga tambahnya, keterbatasan area konsolidasi barang menjadi penyebab permasalahan di sisi layanan pelabuhan. Untuk itu, pelantikan Tim Peningkatan Ekspor Maluku ini, merupakan salah satu bentuk dukungan pemerintah daerah bersama instansi vertikal lainnya untuk bahu membahu dan bekerja sama untuk mendorong peningkatan ekspor Maluku. Tim ini diharapkan mampu menjawab berbagai tantangan dan hambatan yang dihadapi para pelaku ekspor dan mampu membuat perubahan terutama memberikan kemudahan bagi dunia eksportir dari Maluku,” paparnya. Berkaitan dengan Gathering Ekspor yang dilakukan, Assagaff berharap dapat dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya oleh Tim Peningkatan Expor yang sudah dilantik. “Kegiatan ini sangat strategis, selain dihadiri peserta dari kalangan pejabat atau instansi terkait, para ekportir maupun para narasumber dari kalangan profesional, akademisi dan paraktisi untuk berdiskusi atau bertukar pikiran dan berbagi pengalaman sekaligus membangun jaringan strategis. (On)

Tinggalkan Balasan