ICCTF Bantu Yayasan Tiara Pusaka

AMBON, MenaraGlobal – The Indonesia Climate Change Trust Fund (ICCTF) atau Lembaga Wali Amanat Dana Perwalian Perubahan Iklim Indonesia (Trust Fund) – Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas), bekerjasama dengan USAID mendanai empat (4) kegiatan baru, yakni Program Adaptasi dan Ketangguhan di Indonesia Tengah dan Indonesia Timur.

Dua (2) program diantaranya dilaksanakan di Provinsi Maluku yakni, Program Ketahanan Pangan dan Ekonomi Berbasis Rumah Tangga Rentan untuk Adaptasi dan Ketangguhan Terhadap Dampak Perubahan Iklim.

“Program Ketahanan Pangan dan Ekonomi Berbasis Rumah Tangga Rentan dengan kegiatan Pemberdayaan Masyarakat Lokal dalam Mitigasi Gas Rumah Kaca dan Pemanasaan Global Berbasis Lahan melalui Pengembangan Pertanian Organik di Pulau Saparua, dengan mitra pelaksana Yayasan Tiara Pustaka. Sedangkan Program Adaptasi dan Ketangguhan terhadap Dampak Perubahan Iklim di Kabupaten Aru, dengan mitra pelaksana Yayasan Baileo Maluku,” demikian disampaikan, Executive Director ICCTF – Bappenas, Tonny Wagey kepada pers usai kegiatan Ekspose dan Sosialisasi program  ICCTF kepada Pemerintah Provinsi (Pemprov) Maluku di aula lantai 6 Kantor Gubernur, Jumat (25/5/2018).

Menurutnya, selain sosialisasi dalam rangka mengiformasikan program kepada berbagai stakeholder dan pemangku kepentingan di Maluku, pihaknya juga melihat lansung progress capaian dari program kegiatan yang telah dilaksanakan di Kecamatan Saparua dan Kepulauan Aru yang menjadi pilot project.

’Tadi dari 2 yayasan yang merupakan mitra pelaksana sudah menjelaskan, kegiatannya seperti apa, bagaimana pelaksanaannya, manfaatnya apa dan yang paling terpenting adalah dampaknya termasuk juga tantangannya. Ini yang kami harapkan dari kegiatan ini,” terang Wagey.

Pihaknya puas dengan hasil pelaksanaan kegiatan yang dilakukan oleh Yayasan Tiara Pustaka selaku mitra pelaksana.

Wagey juga memberikan apresiasi kepada Pemprov Maluku yang telah mendukung berbagai program kegiatan yang diluncurkan oleh ICCTF ini.

“Selama ini,  saya hanya mendengar laporan dari Ketua Yayasan Tiara Pusaka juga Ketua Yayasan Baileo Maluku.  Baru pertama kali saya berada di Maluku dan tanggapan stakeholder serta pemangku kepentingan sangat tertarik. Mudah-mudahan kegiatan ini bisa diterima oleh Pemprov Maluku menjadi program mereka tapi juga oleh kelompok-kelompok lain,” bebernya.

Berkaitan dengan anggaran yang digelontorkan oleh ICCTF, Wagey menyebutkan,  Yayasan  Tiara Pusaka memperoleh dana sebesar Rp 2 milyar  dan Yayasan Baileo Maluku sebesar  Rp1 milyar.

Untuk itu, dirinya berharap pendampingan terhadap petani terus dilakukan meski program ini telah selesai dilaksanakan.

“Ini yang menjadi tolak ukur keberhasilan kami.  Kalau programnya sudah selesai secara proyek oleh ICCTF tetapi pendampingan harus terus dilanjutkan oleh kedua yayasan ini secara berkelanjutan sampai petani itu bisa mandiri. Mungkin saja kedepan akan ada bantuan dari luar, sehingga dampaknya terhadap petani akan lebih baik,” tandasnya.

Namun demikian, dirinya berharap, ada keberlanjutan setelah project dari program ini selesai bisa dilanjutkan oleh Pemerintah Daerah.

“Kalau ini berkelanjutan dan didukung pemerintah daerah, kegiatan yang sudah dijalankan 2 yayasan ini  bisa djadikan percontohan bagi daerah atau provinsi lainnya,” pungkasnya.

Sementara itu Ketua Yayasan Tiara Pusaka, Julius Mataheru berharap semoga ICCTF selaku penyandang dana dapat memberikan dukungan, minimal terciptanya kemandirian petani.

“Kami berharap ICCTF masih terus memberikan dukungan  sampai petani ini bisa mandiri artinya masyarakat Maluku sudah berdiri di kaki sendiri,” harap Mataheru.

Yayasan Tiara Pustaka sendiri, sebut Mataheru, melaksanakan kegiatan pengembangan pertanian organik di Pulau Saparua diantaranya, Negeri Haria, Paperu, Tuhaha, Mahu, Ihamahu dan Ouw,  berupa budidaya tanaman hortikultura dan tanaman pala organik, pembuatan pupuk dan pestisida

organil bagi petani tang belum terlibat. (on)

Tinggalkan Balasan