JP Sapa Masyarakat Pedalaman dengan Hati

AMBON,MenaraGlobal.com – Melayani masyarakat di Maluku harus dengan hati bukan hanya perkataan namun juga dibutuhkan komitmen yang kuat.

Sebab dengan kondisi geografis sebagai daerah kepulauan, Maluku juga memiliki beberapa daerah yang  didominasi gunung dan lembah yang masih terbilang perawan.

Akibatnya, kawasan tersebut  sulit dijangkau pemerintah dan akses menuju kawasan itu menjadi sangat mahal.

Paadahal, masyarakat  di sana adalah warga Maluku dalam bingkai NKRI dan berhak menerima pendidikan dan pelayanan kesehatan yang sama dengan daerah lainnya di Maluku dan Indonesia.

Sulitnya menjangkau masyarakat di pedalaman Pulau Seram dan Buru telah dibuktikan Jhon Pieris anggota DPD RI asal Maluku.

Pieris yang akrab disapa JP ini sejak tahun 2012 telah melayani pengobatan gratis di daerah pedalaman Buru dan Seram untuk 25.000 orang pasien.

Tidak sedikit anggaran yang harus digelontorkan pria asal Negeri Naku Kecamatan Leitimur Selatan Kota Ambon untuk misi pelayanannya. “Ada kebahagiaan tersendiri bisa berbuat untuk masyarakat, ada kelegaan tersendiri,” katanya tersenyum

Masyarakat katanya begitu antusias mendatangi pos pelayanan kesehatan gratis yang dilakukan, bahkan pihaknya membuka layanan kesehatan gratis hingga malam menunggu warga pulang dari hutan.

“Mereka rata-rata adalah masyarakat penduduk asli yang bekerja dalam hutan, mencari kayu damar dan lainnya, mereka kembali ke negeri  saat matahari mulai terbenam,” terangnya.

Bahkan tambahnya, di beberapa desa terpencil masyarakatnya tidak fasih berbahasa Indonesia dan terpaksa harus menggunakan penerjemah.  Karena harus menerjemahkan atau menyampaikan cara minum obat kepada warga dalam bahasa daerah.

Menurutnya, pemerintah harus punya program kemasyarakatan untuk menyentuh masyarakat paling bawah di daerah terpencil, karena keberhasilan pemerintah adalah saat masyarakat bisa menikmati hasil pembangunan secara merata.

“Jika kita bekerja dengan hati dan terfokus pada peningkatan kesejahteraan masyarakat maka kita akan disebut berhasil, kesejahteraan bukan hanya cukup makan dan perumahan namun yang lebih penting adalah pelayaan kesehatan dan pendidikan,” tambahnya.

JP mengaku sering merasa terenyuh saat ada masyarakat  yang datang dan mengaku jika dirinya sakit namun tidak mampu ke dokter, atau anak usia sekolah yang harus putus sekolah lantaran di desa atau negerinya tidak ada sekolah  atau letaknya terlalu jauh dari lokasi tempat tinggalnya.

“Bagaimana generasi kita yang tinggal di pegunungan akan maju jika mereka belum bisa menikmati hasil pembangunan seperti anak-anak yang tinggal di pesisir,” terangnya.

Untuk menjangkau warga terpencil tersebut, JP dan timnya harus berjalan kaki puluhan kilo, berkali-kali ganti kenderaan roda dua atau bahkan menyeberangi sungai dengan ketinggian air diatas dada.

“Namun ada kesenangan tersendiri saat kita diterima dengan baik oleh masyarakat, mereka tersenyum dan menyapa kita dengan rona kebahagiaan, itu yang lebih penting” katanya tersenyum.

Soal dana yang digunakan untuk membiayai pelayanan tersebut, JP mengaku diperoleh dengan cara berhemat dari beberapa fasilitas yang dibiayai pemerintah dalam kapasitasnya sebagai pejabat negara.

“Ada dana tunjangan perumahan bagi anggota DPD RI sebesar Rp 16 juta per bulan, karena saya memiliki rumah di Jakarta maka uang tersebut saya simpan buat membiayai beberapa program pelayanan saya kepada masyarakat,” jelasnya.

Selain dana tunjangan peruahan, dirinya juga menyisihkan uang penginapan aat berkunjung ke daerah. Sebagai anggota DPD RI, dirinya difasilitasi pemerintah untuk bermalam dii hotel bintang lima misalnya, Santika Hotel ataupun Swissbel dengan tarif Rp 5 juta per hari.

“Saya memilih tinggal di hotel bintang tiga dengan tarif sekitar Rp 800 ribu per hari agar bisa menghemat sekitar Rp 4.200.000  permalam guna membiayai perjalanan saya dan tim ke daerah,” katanya lagi. (on)

 

 

Tinggalkan Balasan