Perahu dan Jaring Bobo Milik Pemdes Waisarissa ‘Raib’

  • Whatsapp
banner 468x60

PIRU, MG.com – Aset Desa Waisarisa Kecamatan Kairatu Kabupaten Seram Bagian Barat (SBB) berupa bodi perahu penangkap ikan bersama jarring bobo (purse Sein) hingga kini tidak diketahui keberadaannya.

Sebelum perahu penangkap ikan tersebut menghilang, pernah digunakan kelompok nelayan.

Kepada wartawan, Ode Ramly menjelaskan, kelompok nelayan pernah menggunakan perahu dan jaring bobo saat pertama didatangkan dalam kondisi bagus.

“Waktu baru didatangkan, perahu dan jaring bobo dalam kondisi bagus dan pernah digunakan dua tahun lalu,” kata Ramly di kediamannya, kemarin.

Dikatakan, saat itu hasil tangkapan ikan menggunakan perahu dan jaring bobo dijual mencapai Rp 10 juta.

“Penjualan ikan hasil tangkapan menggunakan perahu dan jaring bobo tersebut mencapai Rp 10 juita, hesil tersebut kemudian dibagi dua, Rp 5 juta diambil penjabat Desa Waisarisa dan sisanya dibagikan bagi orang yang bekerja saat itu,” kata Ramly.

Untuk itu, Ramly meminta agar Pemerintah Desa Waisarissa untuk mengambil kedua set desa tersebut sebab jika dibiarkan maka akan rusak.

“Segera ambil asset tersebut, sebab jika dibiarkan terlantar selama dua tahun maka kedua asset itu akan rusak,” kata Ramly mengingatkan.

Menurut Ramly, selama dua tahun dititipkan di tempat pembuatan body perahu dan kapal di Desa Waralohi, Pemdes Waisarissa hanya memberikan biaya pemeliharaan sebesar Rp 7 juta  sementara untuk perbaikan body perahu motor jaring Bobo  itu, Ode Ramly sudah mengeluarkan uang sekitar 70 an  juta rupiah.

Ramly juga mengakui jika dirinya yang menjadi perantara untuk membeli perahu penangkap ikan bersama Jaring bobo.

“Satu set dalam artian, perahu dan jarring bobo dibeli dari pengusaha ikan di Huamual Muka seharga Rp 270 juta,” katanya.

Data yang berhasil dihimpun, masalah jaring bobo penangkap ikan milik Pemdes Waisarissa dianggarkan  dalam Dana Desa( DD)  dan Anggaran Dana Desa (ADD) Tahun 2019  atas usulan Musyawarah Desa Waisarissa alokasi dana Rp 300 jutaan.

‘Raibnya’ perahu dan jaring bobo milik Pemdes Waisarissa juga dipeertanyakan masyarakat di desa itu. Salah satu warga Desa Waisarissa, Eky Simaela.

“Dalam Musyawarah Desa Waisarissa Tahun 2019, memang disepakati untuk pengadaan jaring bobo bekas layak pakai bukan yang tidak layak pakai. Untuk jaring bobo itu,  masuk di pencairan tahap akhir dengan besaran anggara antara sekitar Rp 325 juta. Tetapi hingga saya tidak pernah melihat keberadaan jaring bobo tersebut. Namun menurut informasi barang tersebut dititipkan di Desa Waralohi,” katanya menduga.

Sayangnya, kata Simaella, saat ini kondisi jaring bobo itu tidak layak dipakai karena sudah rusak berat.

Apakah ADD itu dipakai untuk membeli barang rusak ? ini  yang membuat masyarakat kecewa,” ungkapnya

Pejabat Desa Waisarissa, Julius Paunno yang dihubungi lewat ponselmnya mengarahkan wartawan menemui Ketua Tim Pengelola Kegiatan Pengadaan Jaring Bobo Desa Waisarissa, Atis Wattimury.

“Silahkan konfirmasi ke TPKP,” katanya melalui pesan singkatnya. (Kos)

banner 300x250

Pos terkait

banner 468x60