“Sasi Pulau” Selamatkan Nusalaut

  • Whatsapp
banner 468x60

NUSALAUT, MG.com – Maluku ternyata kaya akan bahan tambang khususnya emas. Hampir seluruh kepulauan di Maluku memiliki kandungan bahan tambang yang satu ini.
Bahkan, penelusuran sejarah membuktikan kedatangan para penjajah bukan hanya mengincar rempah-rempah tapi juga kandungan emas yang ada di perut bumi Maluku.

Namun tidak semua pulau layak untuk dijadikan area penambangan model terbuka maupun tertutup.
Salah satunya Pulau Nusalaut.
Untuk menghindari adanya eksploitasi bahan tambang di perut Pulau Nusalaut maka terciptalah kesepakatan penolakan pertambangan model apapun.

Akhirnya, tercetuslah isu “Sasi Pulau”. Dan ternyata isu ini telah menyelamatkan kawasan Pulau Nusalaut dari ancaman eksploitasi tambang sejak zaman Orde Baru (Orba). Sasi Pulau dicetuskan oleh beberapa pemuda yang prihatin dengan informasi tentang kandungan bahan tambang yang ada di Pulau Nusalaut. Kondisi Pulau Nusalaut yang kecil dan berada di tengah lautan menjadi pertimbangan para pemuda tersebut untuk menyelamatkannya.

Adalah dua saksi pelaku sejarah yang ikut menginisiasi adanya kesepakatan menolak pertambangan di Pulau itu adalah Nus Ukru dan Jefferson Tasik. Mereka bukan berasal dari Pulau Nusalaut tapi mereka berdua memiliki kepedulian untuk menyelamatkan pulau tersebut dari eksploitasi tambang.
“Saat itu, kami hanya kuatir kerusakan lingkungan jika terjadi penambangan di Pulau Nusalaut, karakteristik pulau ini yang kecil tidak layak untuk dilakukan penambangan,” kata Nus Ukru saat Lokakarya Pengelolaan Pesisir dan Laut Tradisional di Pulau Nusalaut,¬†Selasa (06/04/2021).

Dikatakan, saat itu, pihaknya sepakat membentuk tim advokasi tambang pulau kecil dengan melibatkan banyak LSM termasuk Hualopu.
Kegiatan diawali dengan diskusi apa yang mesti dilakukan mengingat Pulau Nusalaut sangat kecil. “Apa jadinya pulau ini jika dilakukan tambang terbuka ataupun tambang tertutup,” terangnya.

Ukru mengakui, bahasa yang digunakan adalah Sasi Pulau namun yang sebenarnya adalah kesepakatan menolak tambang emas. “Tolong jangan ternak dengan kata Sasi itu,” katanya lagi.

Walaupun kemudian isu Sasi Pulau sempat diperdebatkan namun yang pasti, Pulau Nusalaut yang diduga kaya akan emas tetap terjaga hingga kini.

Salah satu pelaku sejarah lainnya, Jefferson Tasik menjelaskan saat Orde Baru kekuatan penguasa tidak bisa diimbangi dengan apapun. Untuk menyelamatkan Pulau Nusalaut, maka dia bersama kelompok pemuda lainnya mendatangi tokoh masyarakat, tokoh adat dan tokoh agama di Pulau Nusalaut untuk membuat kesepakatan menolak upaya penambangan jenis apapun di pulau ini.
“Jadi nama Sasi Pulau hanyalah sebuah kesepakatan bersama raja-raja di tujuh negeri di Pulau Nusalaut untuk melindungi pulau ini,” kata Tasik..

Sementara itu Prof. Edy Leiwakabessy menjelaskan  jika Sasi Pulau merupakan upaya menjaga pulau ini, yang diisukan banyak mengandung emas.

“Bahkan ada beberapa titik emas yang sudah dideteksi. Di Nalahia misalnya, ada lima titik yang telah terdeteksi,” katanya.

Guru Besar di Universitas Pattimura ini mengaku masih jelas dalam ingatannya, ada perundingan untuk Sasi Pulau agar Nusalaut tetap terjaga.

“Untuk itu, masyarakat serta seluruh elemen masyarakat diminta jangan.mempolemikan “Sasi Pulau” lantaran ini hanya uoaya menyelamatkan Pulau Nusalaut,” katanya. (Onc)

banner 300x250

Pos terkait

banner 468x60