PIRU, MG.com – Aksi demo pemuda yang mengatasnamakan Aliansi Mahasiswa Taniwel Raya di Sekretariat DPRD dan Kantor Bupati Seram Bagian Barat (SBB), Senin(07/12/2020) yang hampir tidak terkendali menuai kritikan.
Kordinator Forum Pemerhati Saka Mese Nusa, Yanto Lemosol bahkan menyebut tundakan tersebut memalukan.
“Apa yang dilakukan sangat konyol, memalukan dan tidak terpuji. Mereka berteriak sebagai anak adat, kaum intelek bikin maluku orang Taiwel,” kata Lemosol geram.
Menurutnya, demonstrasi adalah cara menyampaikan pendapat didepan umum dan diatur atyran perundang-undangan RI. Namun selaku warga negara yang baik semua pihak harus taat terhadap aturan hukum.
“Tindakan pengrusakan fasilitas pemerintah di Sekreratiat DPRD Dan Kantor Bupati SBB itu adalah pelangaran hukum, untuk itu kami agar diproses hukum agar ada efek jera bagi semua orang,” tandasnya.
Dikatakan, SBB milik semua orang mestinya dijaga dan dirawat bersama. Kantor Bupati Dan DPRD itu adalah jati diri dan lambang serta marwah masyarakatnya.
“Selayaknya kita jaga bersama dan hargai ini. bukan se enaknya melakukan hal-hal yang justru menciderai daerah ini,” tegasnya.
Sementara itu, Kabag Umum Sekretariat DPRD SBB, Maya juga menyayangkan aksi tersebut.
“Mereka bilang anak adat, kita juga anak adat, tapi anak adat mestinya beradab,” katanya emosi.
Dalam penilaiannya, aksi tersebut merupakan aksi brutal yang tidak beretika.
“Demo kami ijinkan tapi harus beretika. Apalagi saat ini tudak ada anggota DPRD SBB karena mereka baru kembali dari Jakarta,” tandasnya. (Kos)









