AMBON, MG.com – Gempa Maluku terjadi pada 26 September 2019 dan itu sudah dua bulan berlalu. Namun sayangnya, ribuan pengungsi masih betah mendiami tenda-tenda.
Padahal pemerintah daerah selalu memberi penguatan dan sosialisasi menghimbau agar masyarakat terdampak gempa busa kembali ke rumah dan mulai menata kehidupan kembali.
Bahkan pemerintah akan memberikan uang tunggu rumah atau biaya sewa rumah bagi warga terdampak gempa yang rumahnya rusak parah. Namun, upaya pemerintah belum menampakan hasil.
Menyikapi kondisi tersebut, Ketua Majelis Jemaat GPM Sumber Kasih Negeri Suli Kecamatan Salahutu Kabupaten Maluku Tengah, Pdt. Odie Ririmase membuat gebrakan dan inovasi baru agar Jemaat bisa kembali ke rumah mereka tanpa merasa terpaksa.
Inovasi tersebut yakni, mencanangkan Program Gerakan Kembali ke Rumah untuk berdoa setiap pagi pukul 05.00 wit dan malam.pukul 20.00 wit, sejak tanggal 28 Oktober 2019.
“Sebagai orang Kristen setiap rumah selain sebagai tempat tinggal juga merupakan Mezbah untuk berdoa, jadi tepat pada jam tersebut lonceng gereja dibunyikan dan seluruh unat jembali ke rumah untuk berdoa,” jelas Ririmase saat berbincang-buncang dengan Tim Anti Hoax BPBD Provinsi Maluku di pelataran Gedung Gereja Sumber Kasih usai ibadah Minggu, (24/11/2019).
Selain itu, Ririmase juga berupaya menjadi panutan bagi jemaat yang dipimpinnya dengan cara tidak meninggalkan Pastori Jemaat sejak peristiwa gempa bumi 26 September 2019.
“Sejak awal saya tidak meninggalkan Pastori Jemaat, saya tetap tinggal dan berupaya menenangkan jemaat. Jemaat kami sejak tiga hari pasca gempa telah kembali melaut, karena musim ikan puri, mereka beraktifitas seperti biasa,” katanya.
Ririmase juga melakukan terobosan baru dengan mengundang tim dari Dinas PUPR Provinsi Maluku untuk meninjau Gedung Gereja Sumber Kasih guna memperoleh rekomendasi kelayakan gedung untuk dijadikan tempat beribadah. Sebelum gempa kedua tanggal 10 Oktober 2019 seluruh anggota Jemaat telah kembali beribadah di gedung gereja itu. Namun akibat gempa 5,1 magnitudo terjadi keretakan di bagian depan gereja, sehingga
untuk mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan Ririmase bersama warga Jemaat membangun tenda permanen yang terbuat dari kayu dan beratap seng agar bisa digunakan sebagai tempat beribadah sementara yang nyaman
“Keretakan bagian depan gereja telah dilaporkan ke Dinas PUPR Provinsi Maluku untuk ditinjau ulang agar dilakukan penilaian apakah gedung gereja bisa digunakan dan tidak membahayakan jemaat atau tidak,” tetangnya.
Sayangnya, tim Dinas PUPR Provinsi Maluku belum melakukan peninjauan ulang.
Pdt. Odie Ririmase beserta staf Majelis Jemaat GPM Sumber Kasih juga lakukan sosialisasi evakuasi mandiri dengan menetapkan jalur evakuasi dan titik kumpul anggota Jemaat.
Bukan itu saja pihaknya dibantu pendanaan warga Negeri Suli yang berada di luar Maluku khususnya di Negeri Belanda menyiapkan lokasi pengungsian jika terjadi hal-hal yang tidak diinginkan dengan fasilitas umum yang memadai yakni dilengkapi dengan MCK serta sarana air bersih.
“Kami lakukan ini agar Jemaat merasa nyaman untuk kembali ke rumah tanpa paksaan serta mewaspadai jika terjadi hal-hal yang tidak diinginkan, mereka tahu kemana mereka harus menyelamatkan diri,” katanya.
Freta Julian Kayadoe, Plt. Kepala Sie Pencegahan Bencana BPBD Provinsi Maluku mengapresiasi apa yang dilakukan Pdt. Odie Ririmase beserta Majelis Jemaat GPM Sumber Kasih.
Menurut Freta, apa yang dilakukan Ketua Majelis Jemaat Sumber Kasih terkandung beberapa point penting yang bisa dijadikan contoh bagi warga terdampak gempa lainnya.
“Jika semua komunitas dengan kesadaran sendiri menginisasi *Gerakan Kembali ke Rumah, maka dapat membantu kenyamanan masyarakat untuk kembali ke rumah masing-masing. Tentunya bagi mereka yang struktur rumahnya masih kuat,” katanya.
Selain itu, pimpinan umat atau komunitas memegang peran penting dalam pemulihan masyarakat atau umat.
Ketika ada sarana evakuasi, baik rambu maupun tempat evakuasi, masyarakat akan sangat terbantu ketika ada ancaman bencana.
“Siaga bencana seyogyanya harus berasal dari individu dan komunitas masing-masing,” katanya diakhir kegiatan. (On).









