Kapolda: Penangan Polisi di Tamilouw Sesuai Prosedur

  • Whatsapp
banner 468x60

AMBON, MG.com – Bentrokan antara anggota polisi dari Polres Maluku Tengah dengan warga Negeri Tamilouw Kecamatan Amahai Kabupaten Maluku Tengah akhirnya disikapi Kapolda Maluku, Irjen Pol Refdi Andri.

Kapolda menjelaskan, upaya penangkapan 11 warga yang berujung bentrok antara anggota polisi dengan warga Tamilouw telah sesuai prosedur dan ketentuan yang berlaku.

“Semua yang kita lakukan sudah sesuai dengan prosedur dan sesuai dengan ketentuan,” kata Kapolda kepada wartawan di kawasan Lapangan Merdeka Ambon, Kamis (9/12/2021).

Kapolda membantah anggotanya telah menembaki warga Tamilouw. Meski faktanya belasan warga termasuk tiga orang ibu paruh baya terluka tertembak peluru karet.

“Jadi di sana (Tamilouw) bukan penembakan. Itu penggunaan kekuatan dalam tindakan kepolisian, itu yang terjadi,” kata Refdi.

Dia tidak setuju anggotanya disebut telah menembaki warga. Baginya, apa yang anggotanya lakukan terhadap warga merupakan penggunaan kekuatan yang sah.

Sementara itu hal yang sama juga dikemukakan Kapolda Maluku saat rapat dengar pendapat dengan Komisi I DPRD Maluku.

Kepada Komisi I dan perwakilan warga Tamilouw, Kapolda mengaku jika warga selalu mengedepankan wanita dan anak-anak untuk berhadap-hadapan dengan anggota. Pos polisi perbatasan yang bertujuan untuk bisa menentramkan dan menjaga kedua negeri yakni Tamilouw dan Sepa selalu diminta untuk digeser keberadaannya.

“Kemudian ketika anggota kita masuk di sana, ada penolakan-penolakan, seolah-olah bahwa anggota yang datang di sana untuk menakut-nakuti masyarakat khususnya di Tamilouw,” sesalnya.

Kapolda membandingkan penanganan kasus antara warga Negeri Sepa dengan Tamilouw.

Menurutnya, di Sepa, pihaknya melakukan komunikasi dengan baik, bisa didiskusikan dengan cara yang kooperatif.

“Bahkan warga Sepa juga yang mengatakan bahwa inilah pelaku penganiayaan yang menyebabkan matinya orang, ini akan kita hadirkan,” katanya salut.

Kapolda tidak menampik adanya perbedaan ataupun persepsi orang dalam penanganan suatu masalah.

“Mungkin sedikit berbeda dengan pandangan orang Tamilouw yang melihat kehadiran polisi di sana,” katanya.

Menurut Kapolda, kehadiran anggota berseragam di sana dengan seberapa besar kekuatan adalah penilaian Kapolres. Kapolres menilai bagaimana kondisi di lapangan dan kekuatan apa yang harus dihadirkan.

“Kalau seandainya dihadirkan kendaraan lapis baja pun, tidak ada masalah karena itu kendaraan kepolisian, bukan kita hadirkan kendaraan tempur. Seandainya kita membawa senjata laras panjang dan apapun itu tidak ada masalah karena itu perlengkapan kepolisian,” ujarnya.

Kendati demikian, Kapolda juga menyayangkan kejadian tersebut bisa terjadi, hingga melukai belasan orang warga dan tujuh anggota polisi. Selain itu, juga terdapat sejumlah kendaraan yang dirusak, bahkan adanya percobaan perampasan senjata.

“Ini kan juga sebagai bentuk perlawanan, tetapi saya tidak dalam rangka membela diri. Olehnya itu, tim Propam sudah kita turunkan ke sana untuk melakukan penilaian,” katanya. (D2)

banner 300x250

Pos terkait

banner 468x60