Sambut Wakil Bupati SBT, Anak Negeri Sabuai lakukan Aksi Bisu

  • Whatsapp
banner 468x60

 

Ambon, MG com – Anak-anak Negeri Sabuai, Kecamatan Siwalalat, Kabupaten Seram Bagian Timur (SBT) menyambut kedatangan Wakil Bupati Seram Bagian Timur (SBT) Idris Rumalutur di Negeri Sabuai dengan aksi bisu, pada Kamis (19/08/2021)

Di kepala mereka terikat kain merah/berang dan memegang sejumlah Panflet bertuliskan “ Cabut Status tersangka dua warga Sabuai”, “bela hutan adat, Khaleb dan Stevanus terancam Bui”. “Sabuai terendam banjir ulah CV.Sumber Berkat Makmur (SBM)” dan sejumlah Panflet lainnya.

Kedatangan Wakil Bupati SBT Idris Rumalutur ke Negeri Sabuai dalam rangka melihat secara langsung Kondisi Negeri Sabuai Pasca Banjir Tertanggal 6 Agustus 2021 lalu.

Kepada Wartawan, Frans Yamarua, selaku Koordinator Aksi melalui telefon genggamnya mengatakan, aksi ini adalah upaya untuk mencari keadilan bagi ke dua tersangka yakni Kalep Yamarua dan Stvanus Ahwalam.

“Saat ini berkas perkara mereka sudah di meja Kejaksaan Negeri Seram Bagian Timur, tunggu Jaksa limpahkan ke Kepengadilan Dataran Hunimoa, selanjutnya Kalep dan Stevanus akan disidangkan,” ungkap Yamarua di Ambon.

Menurut Yamarua, anak-anak yang hadir ini mereka merasakan langsung dampak dari perbuatan CV.SBM.

“Hutan mereka gundul, negeri mereka terendam banjir yang lebih parah lagi mereka tau orang tua dan kakak mereka saat ini adalah tersangka dan dalam waktu disidangkan. Inilah bentuk perjuangan anak-anak untuk membebaskan orang tua dan kakak mereka,” ujarnya.

Dirinya menjelaskan, banjir yang terjadi tanggal 6 Agustus 2021 lalu, merupakan dampak dari kegiatan pembalakan liar oleh CV. Sumber Berkat Makmur (SBM).

“Ya anak-anak menyuarakan kepada Pemerintah Daerah SBT agar dapat melihat Nasib kedua Warga Sabuai, Kaleb Yamarua dan Stevanus Ahwalam. Mereka menyelamatkan hutan adat Kabupaten Seram Bagian Timur yang dirampok dan dirusaki oleh CV.SBM.” Katanya

Ia juga menyebutkan, bahwasannya pengrusakan alat berat milik CV.SBM oleh kedua tersangka mempunyai alasan tersendiri yakni CV. SBM telah melakukan pembalakan liar dihutan Negeri Sabuai, pembicaraan maupun pemalangan jalan tidak dihargai, akibat dari hutan diperkosa tertanggal 6 Agustus 2021 banjir melanda Negeri Sabuai dan itu dampak dari pembalakan liar CV.SBM.

“Hadirkan berapa banyak akademisi lakukan penelitian, tentu hasilnya akan sama dengan yang diperbincangkan oleh masyarakat selama ini yaitu banjir karena hutan telah diperkosa,” tegasnya.

Tindakan pengrusakan terhadap alat berat milik CV.SBM sejatinya merupakan bentuk partisipasi mereka selaku Warga Negara dalam menjalankan amanat Konstitusi sebagaimana dijelaskan dalam UU Nomor 18 Tahun 2013 tentang pencegahan dan pemberantasan Pengrusakan Hutan Pasal 61 huruf F yang menyebutkan“ Masyarakat berperan serta dalam pencegahan dan pengrusakan hutan dengan melakukan kegiatan lain yang bertujuan untuk pemberantasan dan pencegahan pemgrusakan hutan”.

Selanjutnya UU Nomor 32 tahun 2009 tentang perlindungan dan pengelolaan Lingkungan Hidup yang menyebutkan Bahwa “ Masyarakat memiliki hak dan kesempatan yang sama dan seluas-luasnya untuk berperan aktif dalam perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup.

 

“Ya, melalui aksi ini sekiranya Pemerintah Daerah Seram Bagian Timur(SBT), dapat merespon persoalan ini dan menyuarakan kepada institusi yang mempunyai kewenangan dalam penegakan hukum terkait status hukum 2 pahlawan hutan adat dari Negeri Sabuai.
Mereka patut mendapat penghargaan dari negara, mereka harus dilindungi bukannya harus dihukum. Makanya membela negara itu kalua melawan musuh dengan senjata, clurit, atau yang dilakukan oleh keduanya itu bagian dari pembelaan dan menyelamatkan negara dari ancaman alam?,” Pungkasnya.

Selain itu, Koordinator Aksi ini juga menyayangkan Tindakan arogansi dari dua Oknum Kepolisian asal Polsek Werinama yang mengambil sejumlah atribut aksi pasca aksi dengan alasan akan dijadikan sebagai barang bukti untuk kepentingan pelaporan ke Pimpinan mereka.

“Ya boleh dikatakan tindakan dua oknum polisi tersebut untuk meneror mental Kami dalam menyuarakan persoalan Sabuai dan ini gaya orde baru bukan era reformasi. Bahwa aksi-aksi yang dilakukan oleh Para Aktivis di Ambon Pihak Kepolisian dalam melakukan pengawalan tidak pernah sekalipun mengambil atribut aksi milik para demonstran kemudian beralasan sebagai bukti untuk kepentingan pelaporan kepada pimpinan Kami berharap Bapak Kapolda Maluku dapat melakukan mengevaluasi terhadap kinerja seluruh Anggota Polsek Werinama SBT. Selain itu, Kami sudah menginformasikan pengambilan atribut akasi oleh oknum Kepolisian Polsek Werinama kepada Pengacara Kami dan selanjutnya Pengacara Kami yang akan melaporkan Tindakan ini kepada Bapak Kapolda Maluku dan Propam Polda Maluku ” tutupnya. (VATAL)

banner 300x250

Pos terkait

banner 468x60