Politik Identitas Dominasi Pilkada

Money Politik Tidak Berpengaruh

AMBON, MenaraGlobal.com-Politik identitas masih mendominasi pemilih menentukan pemimpin daerah di Maluku.

Kekuatan politik identitas ini ditemukan PT. Parameter Konsultindo saat melaksanakan survei Pilkada Maluku.

“Ketika kami menanyakan alasan utama responden menentukan pilihan 30.4 persen mengakui adanya kesamaan suku dan jazirah, 25,7 persen menjawab kesamaan agama,” jelas Direktur Operasional Wilayah Timur PT Parameter Konsultindo, Edison Lapalelo saat merilis hasil survei Pilkada Maluku di Ambon, Jumat (22/6/2018).

Sementara tambah Lapalelo untuk kinerja dan prestasi hanya dikemukakan 11 persen responden.

Kecenderungan pemilih memilih calkada berdasarkan kesamaan identitas juga ditemukan Lembaga Survei Indomatriks yang dirilis beberapa waktu lalu saat melaksanakan survei Pilkada Malra.

Money politic atau politik uang ternyata tidak brrpengaruh di Pilkada, sebab hasil survei membuktikan 71,18 persen masyarakat mengakui menerima pemberian uang dari paslon namun tidak memastikan akan memilih paslon tersebut.

Sementara 14,28 persen tidak menerima uang dari paslon maupun timnya dan 14,54 persen menjawab tidak tahu dan tidak menjawab pertanyaan tersebut.

Survei ini juga membuktikan bahwa 66,08 persen masyarakat Maluku menginginkan Gubernur Baru dan hanya 27,14 yang masih inginkan petahana.

Survei yang dilakukan PT. Parameter Konsultindo juga menempatkan pasangan calon (Paslon) Herman Koedoeboen-Abdullah Vanath (HEBAT) menduduki peringkat teratas dengan presentase 33,07 persen, kemudian pasangan Murad Ismail – Barnabas Orno (BAILEO) 30,09 persen dan paslon petahana, Said Assagaff-Andre Rentanubun (SANTUN) menduduki peringkat  terakhir dengan 29,91 persen.

“Survei ini dilakukan selama tujuh hari yakni mulai tanggal 10-17 Juni 2018 dengan responden sebanyak 1.200 orang, yang tersebar di 11 kabupaten dan kota. Responden terbesar di Malteng yakni 24,2 persen kemudian Kota Ambon 21,2 persen dan terkecil di Kota Tual yakni 3,3 persen,” jelasnya.

Edison menjelaskan instrumen yang digunakan saat survei dilaksanakan adalah kuisioner dan tatap muka dengan margin eror sekitar 2.90 persen.

Menurut Edison, setiap pasangan memiliki peluang kemenangan yang sama karena masih ada 6,93 persen pemilih yang belum menentukan pilihan.  “Paslon mana yang berhasil mengambil simpati 6,9 persen ini maka paslon ini berpeluang menangkan Pilkada Maluku,” terangnya.

Dari ketiga paslon yang disurvei, responden pendukung pasangan HEBAT memiliki tingkat keyakinan menang sangat tinggi yakni 79,36 persen dan hanya 10,14 persen yang masih meragukan kemenangan pilihannya.

Sedangkan paslon BAILEO tingkat keyakinan menang 72,25 persen dengan tingkat keraguan 17,21 persen dan paslon SANTUN  tingkat keyakinan menang 73,24 persen dan ragu-ragu 16,25 persen.

“Ketika kami bertanya ke responden apakah pilihan mereka tetap hingga saat pencoblosan  atau masih bisa berubah, 80,30 persen pendukung HEBAT pastikan tidak berubah, 75,26 persen pendukung SANTUN dan 74,22 persen pendukung BAILEO juga pastikan tidak berubah,” jelasnya.

Lapalelo mengakui pihaknya telah mengetahui kecenderungan penentuan pilihan 6,93 persen masyarakat yang tidak mengemukakan pilihannya namun tidak merilisnya.

“Masih ada waktu beberapa hari untuk tim paslon bekerja keras mengambil simpati kelompok ini. Kami bekerja independen tanpa berpihak ke siapapun jadi tak mungkin kami mengemukakan hal ini nanti ada sangkaan kami bekerja untuk salah satu paslon,” tegasnya. (on)

Tinggalkan Balasan